Perairan Mimika Dikepung Kabut Asap, Polairud Imbau Nelayan Batasi Jarak Melaut kondisi di wilayah perairan Mimika yang terkepung asap atas dampak kebakaran hutan di kabupaten Asmat, Papua Selatan, Senin (12/10/2026)(Salampapua.com/Dokumen Warga Poumako)

Perairan Mimika Dikepung Kabut Asap, Polairud Imbau Nelayan Batasi Jarak Melaut

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Polairud) Polres Mimika mengimbau nelayan dan pengguna transportasi laut meningkatkan kewaspadaan menyusul kabut asap yang mengganggu jarak pandang di wilayah perairan Mimika, terutama di sekitar muara Poumako.

Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, tersebut mulai mengganggu aktivitas pelayaran, termasuk kegiatan nelayan di kawasan Poumako dan perjalanan masyarakat pesisir antarkampung.

Kasat Polairud Polres Mimika, Iptu Kristianus Psakor, S.H., mengatakan tebalnya asap di sekitar muara Pomako menyulitkan pengguna transportasi laut melihat jalur masuk dan keluar muara. Kondisi ini berpotensi membahayakan nelayan saat melaut maupun ketika kembali ke daratan.

“Di muara Poumako, khususnya di perairannya, cukup sulit untuk mendekati muara-muara yang biasa kita masuki karena tertutup kabut asap yang tebal,” ujarnya.

Karena itu, Kristianus mengingatkan nelayan agar tidak memaksakan diri melaut terlalu jauh ketika jarak pandang terbatas. Nelayan diminta tetap berada dalam jangkauan pandangan dan mempertimbangkan kondisi cuaca serta visibilitas sebelum berlayar.

“Kami mengimbau agar masyarakat jangan sampai berlayar atau pergi mencari ikan terlalu jauh dari jangkauan pandangan. Kami khawatir mereka tidak bisa melihat muara untuk masuk atau keluar karena tertutup asap,” tegasnya.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada nelayan di kawasan Pelabuhan Pomako dan masyarakat pesisir yang mengandalkan transportasi laut untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Sebagai langkah antisipasi, Sat Polairud Polres Mimika berencana mendatangi lokasi-lokasi berkumpulnya nelayan untuk menyampaikan imbauan keselamatan secara langsung. Langkah ini dilakukan agar masyarakat lebih memahami risiko pelayaran ketika jarak pandang terganggu kabut asap.

Kristianus berharap para nelayan dan pengguna transportasi laut tidak mengabaikan kondisi jarak pandang sebelum memutuskan berlayar. Ia menegaskan keselamatan harus menjadi prioritas agar aktivitas di laut tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi yang ada.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi