SALAM PAPUA (NABIRE) – Analisis dan Evaluasi (Anev) Kamtibmas Triwulan IV Tahun 2025 Polda Papua Tengah mencatat bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) secara umum masih terkendali. Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang menjadi perhatian serius, mulai dari peningkatan kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, hingga gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah, Kombes Pol Muhajir, saat membuka Gelar Operasional dan Anev Kamtibmas Triwulan IV di Nabire.

Menurut Muhajir, sepanjang tahun 2025 kondisi kamtibmas Papua Tengah masih dalam kendali aparat kepolisian, meski dihadapkan pada dinamika keamanan yang cukup kompleks.

1. Kriminalitas Masih Mendominasi

Pada Triwulan IV 2025, jumlah tindak pidana yang tercatat mencapai 735 kasus, meningkat 26 kasus atau 3,67 persen dibandingkan Triwulan III. Meski demikian, kinerja penegakan hukum menunjukkan tren positif. Penyelesaian perkara meningkat menjadi 53 kasus, atau naik 32,08 persen.

“Jenis kejahatan yang masih mendominasi antara lain pencurian kendaraan bermotor, kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, dan pencurian biasa,” ujar Muhajir.

Berdasarkan data kepolisian, wilayah dengan jumlah kasus kriminal tertinggi berada di Polres Mimika sebanyak 367 kasus, disusul Polres Nabire dengan 306 kasus.

Muhajir menilai tingkat penyelesaian perkara masih perlu ditingkatkan melalui penguatan patroli dialogis, optimalisasi problem solving, serta peran aktif Bhabinkamtibmas di tingkat kampung dan kelurahan.

2. Kecelakaan Lalu Lintas Meningkat

Di sektor lalu lintas, Polda Papua Tengah mencatat 135 kasus kecelakaan pada Triwulan IV 2025, meningkat hampir 10 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 20 orang meninggal dunia, sementara kerugian material diperkirakan mencapai Rp498 juta.

3. Gangguan Keamanan oleh KKB

Sepanjang tahun 2025, tercatat 74 kejadian gangguan keamanan oleh KKB di wilayah Papua Tengah. Insiden tersebut mengakibatkan 49 orang meninggal dunia dan 42 orang luka-luka, termasuk dari unsur TNI, Polri, dan masyarakat sipil.

Menghadapi kondisi tersebut, Muhajir menegaskan bahwa Polri akan memperkuat strategi pengamanan pada tahun 2026 dengan menitikberatkan pada deteksi dini, pencegahan konflik, serta peningkatan kehadiran polisi di tengah masyarakat.

“Keberhasilan Polri tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat melalui rasa aman, pelayanan yang humanis, dan penegakan hukum yang adil,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, serta tokoh adat dan tokoh agama guna menjaga stabilitas keamanan dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua Tengah.

Penulis: Elias Douw

Editor: Sianturi