SALAM PAPUA (TIMIKA)- Paskah merupakan salah satu hari raya
terpenting dalam tradisi Kekristenan. Perayaan ini memperingati kebangkitan
Yesus Kristus dari kematian pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya. Bagi umat
Kristen di seluruh dunia, Paskah bukan sekadar perayaan liturgis, tetapi inti
dari iman yang menegaskan kemenangan atas dosa dan kematian.
Sejarah Paskah berakar pada peristiwa yang terjadi sekitar
dua ribu tahun lalu di wilayah Yerusalem. Menurut catatan dalam Perjanjian
Baru, Yesus ditangkap, diadili, dan disalibkan oleh otoritas Romawi atas
desakan pemimpin agama Yahudi pada masa itu. Peristiwa penyaliban ini terjadi
pada masa pemerintahan Pontius Pilatus.
Penyaliban merupakan hukuman mati yang kejam pada masa
Kekaisaran Romawi. Yesus wafat di kayu salib pada hari yang kemudian dikenal
sebagai Jumat Agung. Setelah wafat, tubuh-Nya dimakamkan di dalam kubur batu.
Namun, pada hari ketiga, para pengikut-Nya menemukan bahwa kubur tersebut
kosong.
Kebangkitan Yesus inilah yang menjadi dasar utama perayaan
Paskah. Peristiwa ini dipercaya sebagai penggenapan janji Allah dan menjadi
bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Menariknya, Paskah Kristen memiliki kaitan erat dengan
Paskah Yahudi atau Pesach. Dalam tradisi Yahudi, Passover memperingati
pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, sebagaimana dicatat dalam
Kitab Keluaran.
Perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya diyakini
terjadi dalam konteks perayaan Passover. Dalam perjamuan tersebut, Yesus
memperkenalkan makna baru pada roti dan anggur sebagai simbol tubuh dan
darah-Nya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Perjamuan Kudus dalam tradisi
Kristen.
Kaitan historis ini menunjukkan bahwa Paskah Kristen tidak
berdiri sendiri, melainkan berkembang dari tradisi Yahudi yang kemudian
dimaknai ulang dalam terang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.
Pada masa awal Kekristenan, perayaan Paskah tidak memiliki
tanggal yang seragam. Perbedaan muncul antara komunitas Kristen di berbagai
wilayah, khususnya antara gereja di Asia Kecil dan Roma.
Perbedaan ini akhirnya diselesaikan dalam Konsili Nicea pada
tahun 325 M. Dalam konsili tersebut diputuskan bahwa Paskah akan dirayakan pada
hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah titik balik musim
semi (vernal equinox). Penetapan ini digunakan hingga sekarang, meskipun
terdapat perbedaan kalender antara gereja Barat dan Timur.
Seiring waktu, perayaan Paskah berkembang menjadi rangkaian
liturgi yang dimulai dari masa Pra-Paskah atau Prapaskah (Lent), yang
berlangsung selama 40 hari sebagai masa pertobatan dan refleksi.
Dalam perjalanan sejarahnya, Paskah juga diwarnai oleh
berbagai simbol dan tradisi yang berkembang di berbagai budaya.
Salah satu simbol yang paling dikenal adalah telur Paskah.
Telur melambangkan kehidupan baru, yang sejalan dengan makna kebangkitan.
Tradisi menghias telur berasal dari Eropa Timur dan kemudian menyebar ke
berbagai belahan dunia.
Selain itu, ada juga simbol kelinci Paskah yang populer di
budaya Barat. Meskipun tidak memiliki dasar teologis, simbol ini berkembang
sebagai bagian dari tradisi rakyat yang berkaitan dengan kesuburan dan
kehidupan baru.
Di banyak gereja, perayaan Paskah ditandai dengan ibadah
khusus yang penuh sukacita. Nyanyian, doa, dan pembacaan Alkitab menjadi bagian
penting dalam merayakan kebangkitan Kristus.
Secara teologis, Paskah memiliki makna yang sangat mendalam.
Kebangkitan Yesus dipandang sebagai kemenangan atas dosa dan kematian, serta
memberikan harapan akan kehidupan kekal bagi umat manusia.
Dalam ajaran Kristen, kematian Yesus di kayu salib dianggap
sebagai pengorbanan untuk menebus dosa manusia. Kebangkitan-Nya kemudian
menjadi tanda bahwa kuasa dosa telah dikalahkan.
Paskah juga menjadi simbol pembaruan hidup. Umat Kristen
diajak untuk meninggalkan kehidupan lama dan hidup dalam terang kebangkitan
Kristus.
Perayaan Paskah dirayakan dengan cara yang beragam di
seluruh dunia. Di Eropa, Paskah sering dirayakan dengan tradisi keluarga dan
kegiatan budaya. Di Amerika Latin, perayaan Semana Santa (Pekan Suci) diwarnai
dengan prosesi keagamaan yang megah.
Di Indonesia, termasuk di Papua, Paskah dirayakan dengan
penuh khidmat melalui ibadah gereja, pawai obor, serta kegiatan rohani lainnya.
Di beberapa daerah, perayaan juga dipadukan dengan budaya lokal, sehingga
menciptakan ekspresi iman yang khas.
Di era modern, makna Paskah tetap relevan bagi kehidupan
manusia. Di tengah berbagai tantangan, Paskah mengingatkan akan harapan,
pengampunan, dan kehidupan baru.
Pesan kebangkitan mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah
akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju pemulihan. Nilai-nilai ini
menjadi penting dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan
kemanusiaan.
Paskah juga mengajak umat untuk membangun hubungan yang
lebih baik dengan sesama, serta menumbuhkan semangat kasih, pengorbanan, dan
kepedulian.
Sejarah Paskah bukan hanya tentang peristiwa masa lalu,
tetapi juga tentang makna yang terus hidup hingga saat ini. Dari penyaliban di
Yerusalem hingga perayaan global yang penuh sukacita, Paskah menjadi simbol
harapan yang melintasi zaman.
Bagi umat Kristen, Paskah adalah pengingat bahwa kehidupan
selalu memiliki kesempatan untuk diperbarui. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi
dasar iman sekaligus inspirasi untuk menjalani hidup dengan penuh pengharapan
dan kasih.
Dengan demikian, Paskah tidak hanya dikenang sebagai
sejarah, tetapi juga dirayakan sebagai pengalaman iman yang terus memberi makna
dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Sianturi

