Bupati Mimika Jelaskan Alasan Pembangunan Infrastruktur Belum Berjalan Maksimal
Bupati Kabupaten Mimika, Johannes Rettob (Salampapua.com/Evita)
SALAM PAPUA (TIMIKA) Bupati Mimika, Johanes Rettob menanggapi kritik masyarakat terkait mandeknya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Mimika.
Menurut Rettob, salah satu penyebab utama belum maksimalnya pembangunan infrastruktur di Timika adalah kenaikan harga barang dan biaya distribusi yang cukup tinggi, terutama untuk wilayah Papua.
Hampir di seluruh wilayah Indonesia saat ini harga sejumlah barang mengalami kenaikan hampir 22 persen. Itu belum ditambah biaya transportasi ke Mimika yang juga semakin mahal akibat kelangkaan solar, ujar Rettob usai menghadiri Workshop Penerapan BLUD pada fasilitas kesehatan lingkup Pemkab Mimika di Hotel Horison Diana, Rabu (20/5/2026).
Ia meminta kondisi tersebut dipahami masyarakat agar tidak muncul anggapan bahwa pembangunan infrastruktur di Mimika sengaja dihentikan.
Tolong sampaikan kepada masyarakat. Selama ini banyak orang mengkritisi kenapa infrastruktur di Timika tidak berjalan. Itu catatan penting yang saya sampaikan supaya masyarakat tahu, katanya.
Rettob menjelaskan, kenaikan harga material dari daerah pemasok seperti Surabaya turut memengaruhi biaya pembangunan di Mimika, terlebih dengan tingginya ongkos pengiriman ke Papua.
Atas kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Mimika saat ini tengah melakukan evaluasi terhadap harga satuan pembangunan.
Ia menegaskan, kondisi melambatnya pembangunan infrastruktur bukan hanya terjadi di Mimika, tetapi juga dialami banyak daerah lain di Indonesia.
Ada yang bilang di daerah lain infrastruktur tetap berjalan, bisa saja karena proyek multiyear. Ini bukan hanya di Timika saja, tapi hampir di semua daerah, ujarnya.
Sebagai Wakil Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Rettob mengaku persoalan tersebut juga menjadi pembahasan para kepala daerah di berbagai kabupaten.
Rata-rata pimpinan kabupaten mengaku sedang melakukan evaluasi harga satuan, katanya.
Selain pemerintah, menurut Rettob, banyak kontraktor juga memilih tidak mengikuti tender proyek karena mempertimbangkan risiko kerugian akibat kenaikan harga material dan bahan bakar.
Saat ini, kata dia, Pemkab Mimika lebih memprioritaskan belanja jasa pelayanan, sementara belanja infrastruktur sebagian besar belum berjalan optimal.
Harga naik itu secara global. Itu terbukti dengan naiknya harga dolar. Semua berdampak, apalagi harga BBM, tutupnya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi