SALAM PAPUA (NABIRE) - Enam Suku Pesisir di Kabupaten Nabire menggelar Musyawarah Besar (Mubes) masyarakat adat dengan mengusung tema umum “satu tanah leluhur, satu budaya, satu tekad, satu masa depan,” yang digelar di pantai Menase kalibobo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Kamis (30/7/2026)
Enam suku yang mengikuti musyawarah tersebut adalah Suku Wate, Yerisiam, Yaur (Hugure), Umari, Goa (Napan), dan Moora, serta dihadiri dewan adat suku masing-masing, pihak pemerintah daerah setempat, anggota legislatif dan tokoh adat.
Mewakili 6 Suku Pesisir, Kepala Suku Besar Wate, Otis Money mengatakan bahwa musyawarah tersebut sebagai tonggak kebangkitan masyarakat pesisir dan kepulauan Nabire. Menurutnya, setelah puluhan tahun Kabupaten Nabire berdiri, masyarakat pesisir masih menghadapi berbagai ketertinggalan di berbagai sektor.
“Hari ini kita pandang sebagai hari kebangkitan orang pesisir. Hampir 60 tahun Nabire menjadi kabupaten, tetapi orang pesisir masih tertinggal di berbagai bidang. Kebangkitan itu dimulai dari saling merendahkan diri dan menghancurkan tembok-tembok yang selama ini memisahkan kita,” ujarnya.
Otis mengajak seluruh masyarakat adat meninggalkan sekat antar suku yang selama ini menjadi penghalang persatuan. la menegaskan bahwa perubahan hanya akan terwujud jika setiap suku saling menghargai dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
“Mulai hari ini kita patahkan tembok-tembok itu. Kita harus merasa orang lain lebih penting dari diri kita sendiri agar ada perubahan bagi masyarakat pesisir dan kepulauan Nabire,” katanya.
la juga mengingatkan pentingnya menjaga tanah dan wilayah adat sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, perpecahan hanya akan membuka ruang bagi pihak lain untuk mengambil keuntungan dari konflik internal masyarakat pesisir.
“Kalau bukan kita yang menjaga negeri ini, siapa lagi? Selama masih ada tembok di antara kita, akan selalu ada pihak ketiga yang bermain. Hari ini, disaksikan Tuhan dan para leluhur, kita bangkit sebagai orang pesisir,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Otis berharap seluruh rangkaian Musyawarah Besar berlangsung aman tanpa ditunggangi kepentingan kelompok tertentu. Ia menilai Forum tersebut merupakan ruang untuk memperkuat jati diri masyarakat adat pesisir dan kepulauan.
"Musyawarah ini harus berjalan sampai selesai tanpa kepentingan lain. Tujuan utama kita adalah bersatu, saling memiliki, dan membangun Nabire yang lebih baik melalui kebangkitan masyarakat pesisir dan kepulauan,” pungkasnya.
Penulis: Elias
Editor: Jimmy