SALAM PAPUA (TIMIKA)- SEBELUM terbentuknya Kabupaten Mimika,
pusat pemerintahan di daerah Mimika bermarkas di Kaokanao. ‘Kaoka’ berarti
perempuan dan ‘nao’ berarti bunuh. Munculnya kata Kaokanao sendiri berasal dari
Perang Hongi, dimana semua perempuan harus dibunuh.
Kabupaten Mimika dibentuk pada 8 Oktober 1996 setelah selama
tiga tahun berstatus administratif. Mimika secara resmi menjadi kabupaten
definitif pada awal 2000. Dengan perubahan ini maka Mimika diharapkan dapat
tumbuh berkembang dengan kekuatannya sendiri seperti daerah lainnya.
Bicara Mimika tak lepas dari Suku Kamoro, suku yang memiliki
hak ulayat yang terbentang dari Potowaiburu hingga Nakai.
Pada masa silam, orang Kamoro lebih dikenal dengan sebutan
Mimika We. Sepanjang laporan penelitian dan berbagai laporan, tidak ada arti
yang jelas mengenai kata Kamoro, namun berdasarkan cerita yang diperoleh bahwa
kata Kamoro berasal dari hewan atau binatang komodo.
Sebab itu, menurut masyarakat Kamoro, mereka berasal dari
daging hewan yang dibunuh dan dipenggal-penggal oleh nenek moyang mereka dan
kemudian daging tersebut berubah wujud menjadi orang Kamoro. Ada versi lain,
hukum adat Kamoro mulanya berasal dari udik Sungai Kamoro, yang kemudian
menyebar luas memenuhi sepanjang pantai Barat Daya Papua, yaitu Potowaiburu
hingga ke Sungai Otakwa.
Asal-usul Suku Kamoro memiliki cerita sendiri-sendiri dari
tiap-tiap kampung. Ada cerita salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa
orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai bagian Timur daerah
Mimika. Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak
kecil di tepi pantai. Kemudian si anak membawa ke rumahnya. Telur tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak,
malahan si anak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian
telur tersebut menetas. Tetasan tersebut
adalah seekor komodo.
Hari ke hari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman
menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan
seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah
hamil.
Setelah penduduk itu habis dimakan, komodo itu beristirahat
di sebuah pulau. Pada saat itu, ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki
yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut
mendengar cerita dari ibu-nya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka
timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya
sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau.
Dalam upaya membunuh hewan komodo, Mbirokateyau mendapat
petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan
mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian
darat. Rumah pertama (kewa kame), rumah kedua (tauri kame), rumah ketiga
(kaware kame) dan rumah keempat (ema kame).
Rumah keempat ditempati oleh ibunya dan rumah pertama
ditempati oleh si anak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang
berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada komodo tersebut,
yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi di sekitarnya.
Situasi ini mengundang komodo ini menyerang rumah tersebut.
Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk
menghujani tubuh hewanlah yang telah
menyelamatkan si anak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan
akhirnya komodo ini mati tertimpa alat-alat perang.
Kemudian si anak memotong da-ging-nya menjadi empat bagian
dengan ukuran yang sama besar dan me-lemparkannya ke empat penjuru mata angin.
Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya
telah menjadi orang Asmat di Merauke.
Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata
Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia Suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah
Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke
bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhir-nya menjadi suku Sempan
di Timika.
Ada juga cerita lain yang menyatakan bahwa orang Kamoro
mula-mula bertempat tinggal di pulau yang bernama Nawapinaro yang terletak
dibagian timur daerah Mimika. Suatu saat dilaksanakan pesta adat Karapao adalah
tauri yang merupakan pesta inisiasi bagi anak-anak yang hendak memasuki masa
remaja (dewasa). Menurut adat yang mengikuti pesta harus memiliki orang tua dan
sanak saudara sebagaimana syarat-syarat pesta adat tersebut.
Diantara orang-orang itu, ada dua orang kaka beradik yaitu
Aweyau dan Mimiareyau, yang hidup dalam pemeliharaan wali orang tuanya.
Sehingga mereka tidak diperkenankan mengikuti pesta adat tersebut. Mereka
tersisih dari teman sebayanya.
Perasaan ini menimbulkan rasa cemburu dan muncul ide untuk
membuat keributan pada saat pesta berlangsung. Mereka berdua mengenakan topeng
setan untuk menakut-nakuti orang yang sedang berpesta.
Peserta pesta adat yang melihat itu, kemudian melarikan diri
menuju arah barat dengan menggunakan perahu, kemudian menempati sungai-sungai
yang kini merupakan daerah Mimika dari bagian timur hingga ke bagian barat jauh
yang sekarang sudah menjadi batas wilayah Kamoro.
Orang Kamoro memiliki ciri-ciri fisik seperti, wanita dan
pria rata-rata memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap karena keadaan alam
(di pesisir pantai), warna kulit hitam, hidung mancung dan rambut keriting.
Orang Kamoro tidak mengenal sistem pertanian sehingga mereka
kem-bali kepada kehidupan mereka se-bagai nelayan dan hidup berpindah-pindah
dari satu tempat ketempat yang lain (nomaden). Mereka me-miliki semboyan, yaitu
3S (sungai, sampan, sagu).
Sungai merupakan salah satu arus utama aktivitas Suku
Kamoro, sehingga mereka membutuhkan sampan untuk melakukan aktifitas
sehari-hari.
Rasa sosial yang begitu kuat, membuat masyarakat Kamoro
selalu berbagi dengan sesamanya. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ka-moro
sehari-hari, mereka biasanya melakukan
aktivitas seperti memangkur sagu, melaut dan meramu. Berbagai makanan khas
masyarakat Suku Kamoro antara lain tambelo, sagu,ulat sagu juga siput dan
karaka.
Pada awalnya, orang Kamoro menganut kepercayaan animisme dan
dinamisme. Namun setelah masuknya agama Katolik pada 1928 yang dibawa oleh
seorang pater bernama Cornelles Lecoq Darmanville, masyarakat Kamoro mulai
mengenal agama. Sebab itu, sebagian besar masyarakat Kamoro memeluk agama
Kristen Katolik. (Sumber: Thobias Maturbongs/YPMAK.or.id)
Editor: Sianturi

