SALAM PAPUA (TIMIKA) - Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRK Mimika, Adrian Andhika Thie menyatakan dukungannya terhadap kritik Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, terkait pelaksanaan kegiatan AI Ignition Road to Timika.

Adrian menegaskan bahwa arah pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Mimika harus dimulai dari kebutuhan paling mendasar, yakni pendidikan literasi dasar bagi anak-anak.

“Sebagai daerah dengan tantangan geografis dan akses pendidikan yang belum merata, Mimika masih menghadapi persoalan serius dalam hal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Ini yang harus kita tuntaskan terlebih dahulu,” tegas Adrian.

Ia juga menyoroti ketimpangan pembangunan pendidikan antara wilayah perkotaan dengan distrik pesisir dan pegunungan yang masih jauh tertinggal.

“Di banyak distrik pesisir dan wilayah pegunungan yang jauh, kondisi pendidikan kita belum merata. Masih banyak sekolah yang bahkan belum memiliki fasilitas dasar seperti komputer. Anak-anak di sana bukan bicara Artificial Intelligence, tapi masih berjuang memahami teknologi dasar,” ungkapnya.

Adrian mengatakan bahwa saat ini pemerintah daerah paling memahami kondisi riil dan kebutuhan pendidikan di lapangan.

“Pemerintah daerah lebih tahu betul kebutuhan pendidikan di Mimika. Karena itu, kita harus beri ruang dan dukungan agar kebijakan yang diambil benar-benar kontekstual dan menjawab persoalan di bawah,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pendidikan yang terus bekerja maksimal dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan.

“Pemda Mimika melalui Dinas Pendidikan terus berupaya maksimal untuk menunjang visi dan misi kepala daerah, Bapak Johannes Rettob dan Wakil Bupati Bapak Emanuel Kemong, yaitu pembangunan dari kampung ke kota. Hal yang sama juga harus tercermin kuat dalam sektor pendidikan,” tuturnya.

Menurut Adrian, pengenalan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) memang penting dalam konteks masa depan. Namun, dalam kondisi Mimika saat ini, pendekatan tersebut dinilai belum menjadi kebutuhan utama masyarakat secara luas.

“Kita tidak boleh terjebak pada euforia teknologi, sementara fondasi pendidikan kita belum kokoh. Jangan sampai AI hanya dinikmati segelintir orang, sementara anak-anak di kampung masih berjuang mengenal huruf,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kesenjangan akses ini berpotensi memperlebar ketidakadilan jika tidak disikapi dengan kebijakan yang tepat dan berorientasi pada pemerataan.

“Kalau kita langsung lompat ke AI tanpa menyiapkan dasar, maka yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin dalam. Yang di kota akan melaju, sementara yang di kampung semakin tertinggal,” tegasnya.

Adrian juga mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan harus bersifat bertahap dan inklusif, dengan memastikan seluruh wilayah, baik di pusat kota maupun distrik terpencil, agar mendapatkan akses yang adil terhadap pendidikan dasar.

“PDI Perjuangan berpandangan bahwa pembangunan harus dimulai dari bawah. Kita perkuat dulu literasi dasar, kita hadirkan guru, kita benahi sekolah, kita lengkapi sarana seperti buku dan komputer dasar, baru kemudian kita bicara tentang lompatan teknologi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya efektivitas program agar benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Setiap program harus menjawab kebutuhan riil rakyat Mimika. Kalau tidak, maka kita hanya akan sibuk dengan kegiatan, tapi tidak menghasilkan perubahan yang nyata,” tambahnya.

Adrian kembali menegaskan bahwa Fraksi PDI Perjuangan DPRK Mimika tetap mendukung kemajuan teknologi, namun dengan pendekatan yang tepat dan berkeadilan.

“AI itu penting, tapi waktunya harus tepat. Hari ini, tugas utama kita di Mimika adalah memastikan tidak ada lagi anak yang tertinggal dalam kemampuan dasar pendidikan, termasuk akses terhadap teknologi dasar yang layak,” pungkasnya.

Penulis/Editor: Jimmy