SALAM PAPUA (TIMIKA) – Sebanyak 11 Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Mimika dihentikan sementara operasionalnya
oleh Badan Gizi Nasional (BGN) akibat masalah Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) dan administrasi.
Kepala Regional BGN Papua Tengah, Nalen Situmorang,
menyampaikan bahwa dari total 18 SPPG yang ada di Timika, hanya tujuh yang saat
ini masih aktif.
“Sebelas SPPG ini memiliki permasalahan IPAL dan
administrasi. Sebelumnya kami telah memberikan surat teguran dengan batas waktu
perbaikan hingga 31 Maret, namun tidak ditindaklanjuti sehingga kami mengambil
langkah suspend,” ujarnya saat rapat koordinasi bersama Satgas Makan Bergizi
Gratis (MBG) Mimika di Pusat Pemerintahan (Puspem) SP3, Selasa (14/4/2026).
Ia merinci, delapan SPPG bermasalah pada sistem IPAL,
sementara tiga lainnya terkait administrasi. Saat ini, tujuh SPPG yang masih
beroperasi tersebar di wilayah Wania satu unit, Kuala Kencana satu unit, dan
Mimika Baru sebanyak lima unit.
Nalen juga menekankan pentingnya dukungan Satgas MBG dalam
menyukseskan program Makan Bergizi Gratis, yang hingga kini masih menghadapi
penolakan dari sebagian masyarakat.
“Peran Satgas sangat penting agar program ini dapat
diterima. Saat ini masih ada orang tua yang menganggap MBG sebagai sesuatu yang
berbahaya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Mimika, Emanuel Kemong,
menilai langkah suspend yang diambil BGN merupakan hal yang wajar, mengingat
adanya pelanggaran dari pihak penyelenggara SPPG.
Menurutnya, perlu dilakukan pemantauan langsung ke lapangan
untuk memastikan setiap SPPG memenuhi standar, termasuk memiliki Sertifikat
Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Kita harus turun langsung melihat kondisi SPPG. Ke depan
saya juga akan melakukan peninjauan untuk memastikan semuanya sesuai standar,”
ujarnya.
Terkait stigma negatif yang berkembang di masyarakat,
Emanuel menilai hal tersebut dapat diatasi melalui sosialisasi yang lebih masif
dan tepat.
“Dengan sosialisasi yang baik, masyarakat akan memahami
manfaat MBG. Selama ini muncul persepsi negatif karena informasi yang tidak
utuh,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

