SALAM PAPUA (KEAKWA)- Angin laut dari Arafura berembus
pelan, menyapu pasir putih Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten
Mimika, Papua Tengah. Laut yang namanya pernah tercatat dalam lembar sejarah
perjuangan bangsa itu kini terbentang tenang, seolah menyimpan kisah-kisah lama
tentang keberanian dan pengorbanan.
Air lautnya begitu bening, menelanjangi gugusan terumbu
karang yang bersolek dalam warna-warni magis. Di bawah sana, ikan-ikan berenang
bebas dalam akuarium raksasa yang dipahat langsung oleh tangan Tuhan. Jika
surga adalah tentang keindahan yang murni, maka Keakwa adalah replikanya yang
tertinggal di bumi timur Indonesia.
Namun, di balik keelokan yang memanjakan mata itu, tersimpan
getir yang panjang. Bagi warga Keakwa, debur ombak tak selalu membawa kabar
baik. Selama ini, kemegahan alam mereka kontras dengan sunyinya pembangunan.
Akses yang terbatas dan fasilitas yang minim membuat masa depan anak-anak
pesisir seolah tertahan oleh pasang surut air laut yang tak pasti.
Kesadaran akan ketertinggalan itulah yang memanggil TNI dan
Pemerintah Daerah untuk hadir. Melalui program TMMD Ke-128 Tahun Anggaran 2026,
Kodim 1710/Mimika datang membawa lebih dari sekadar material bangunan.
Mengusung tema “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri Dari Desa”, kehadiran
para prajurit di ujung pesisir Papua Tengah ini bukan dengan laras senjata yang
dingin, melainkan dengan hati yang hangat, siap membuktikan bahwa negara tidak
pernah melupakan mereka yang tinggal di beranda paling luar.
Goresan Pena, Janji yang Membumi
Matahari baru saja meninggi pada 22 April 2026 ketika sebuah
takdir baru bagi Keakwa mulai dirancang. Di atas selembar kertas putih, Bupati
Mimika Johannes Rettob dan Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda
menorehkan tinta hitam.
Pertemuan dua tanda tangan itu bukan sekadar formalitas
birokrasi yang beku. Ia adalah sebuah ikrar, sebuah jembatan emosional yang
mengikat komitmen untuk membawa perubahan fisik dan batin bagi masyarakat
pesisir Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan
bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di wilayah perkotaan.
“Saudara-saudara kita di Kampung Keakwa juga berhak
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kehadiran TMMD menjadi bukti bahwa
negara hadir dan tidak menutup mata terhadap kebutuhan masyarakat di pelosok,”
ungkapnya.
Ucapan itu disambut tepuk tangan hangat masyarakat yang
hadir. Di wajah-wajah mereka tampak harapan yang perlahan mulai tumbuh.
Ketika Laut Mengirimkan Saudara
Pagi itu, cakrawala Keakwa menyuguhkan pemandangan yang
berbeda. Dari kejauhan, siluet kapal-kapal pengangkut material perlahan
membelah kabut Laut Arafura. Kehadiran mereka memicu riak kegembiraan yang
menjalar cepat ke seluruh sudut kampung. Hari itu, harapan tidak lagi datang
sebagai dongeng tidur, melainkan nyata, berwujud lambung kapal yang sarat
dengan muatan masa depan.
Begitu jangkar dilarungkan, warga yang telah lama menanti
berbondong-bondong menceburkan diri ke air semata-kaki, mengulurkan
tangan-tangan legam mereka yang kasar oleh garam laut untuk menyambut uluran
tangan kokoh para prajurit satgas TMMD Kodim 1710/Mimika.
Balok kayu, karung, logistik, dan seng-seng pembawa peneduh
dipikul bersama. Saling silang tawa dan peluh menyatu dalam ritme gotong royong
yang karismatik. Di Keakwa, TNI tidak disambut sebagai barisan tamu asing,
melainkan sebagai saudara kandung yang lama dinanti pulang ke rumah.
Simfoni Palu dan Air Mata yang Mengering
“Tak… tok… tak… tok…”
Bunyi ketukan palu bertalu-talu, memecah kesunyian pagi dan
beradu indah dengan deru ombak konstan Arafura. Di bawah sengatan matahari
pesisir yang membakar kulit hingga legam, para prajurit Satgas TMMD menyusuri
jalanan kampung yang becek, memikul material seolah rasa lelah telah lama
tanggal dari tubuh mereka.
Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di lima titik
kritis perlahan mengubah wajah Keakwa. Dinding-dinding rumbia yang lapuk dan
atap bocor yang kerap mengundang gigil saat badai selatan datang, kini
digantikan oleh struktur bangunan yang kokoh dan tegak.
Di ambang pintu salah satu rumah yang baru selesai
dikerjakan, seorang mama berdiri terpaku. Jemarinya yang gemetar mengusap kusen
pintu yang masih menyisakan aroma kayu segar. Matanya berkaca-kaca, menyimpan
lautan haru yang membuncah.
“Sa su lama tinggal di rumah bocor. Kalau hujan turun malam
hari, tong tidur susah sekali. Sekarang rumah su bagus, tong pu anak-anak bisa
tidur tenang,” bisiknya lirih, sebuah kalimat pendek yang merangkum akhir dari penderitaan
panjangnya.
Bagi warga Keakwa, rumah-rumah baru ini bukan sekadar
susunan kayu dan paku. Ini adalah tempat di mana martabat mereka dikembalikan
oleh ibu pertiwi.
Mengalirkan Nafas Kehidupan di Tanah Pesisir
Bertahun-tahun, air bersih adalah teka-teki yang sulit
dipecahkan di Keakwa. Warga terkunci dalam pilihan sulit bergantung pada tadah
air hujan atau mengonsumsi air sumur galian yang payau akibat rembesan air
laut. Krisis sanitasi ini menjadi musuh utama yang dihadapi Satgas TMMD.
Proses pengerjaan sumur bor pertama menjadi lembaran paling
dramatis sekaligus melegakan di tanah pesisir ini. Setelah berhari-hari mata
bor raksasa meraung, menembus kerasnya lapisan tanah yang sarat karang tua,
kecemasan sempat membayangi wajah para prajurit dan tetua kampung. Mereka
dihantui ketakutan jika air yang keluar akan tetap terasa asin dan payau
seperti sebelum-sebelumnya.
Namun, tepat ketika pipa mencapai kedalaman kritis, sebuah
keajaiban menyembur ke permukaan. "Air sudah keluar! Air bersih!"
teriak seorang prajurit memecah ketegangan.
Air bersih dan bening yang mengalir dari pembuatan sumur bor
TMMD
Bukan air payau yang asin dan keruh, melainkan aliran air
yang begitu bening, sejernih kristal, meluncur deras membasahi tanah kering
Keakwa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kampung tersebut, sebuah sumur bor
berhasil melahirkan air tawar yang benar-benar murni langsung dari rahim bumi
mereka.
Melihat hal itu, seorang bapak tua berjalan gontai mendekati
pancuran air. Dengan telapak tangan yang gemetar dan kasar, ia menampung air
tersebut, menghirup aromanya yang segar, lalu membasuh wajahnya penuh rasa
syukur. Matanya tampak berkaca-kaca, memancarkan keharuan yang mendalam tanpa
perlu kata-kata. Sebuah senyum lega terkembang di bibirnya yang legam.
Beberapa anak kecil langsung berlarian ikut mengguyurkan air
ke kepala mereka sambil tertawa riang, sementara para prajurit TNI dan warga di
sekelilingnya saling melempar senyum bahagia, larut dalam rasa bangga yang luar
biasa. Rasa lelah berhari-hari seketika luruh bersama kesegaran air yang
mengalir.
Secara keseluruhan, lima titik sumur bor modern akhirnya
berhasil didirikan bersamaan dengan lima unit fasilitas Mandi, Cuci, Kakus
(MCK). Air, yang dulunya merupakan kemewahan yang harus dihemat sedemikian
rupa, kini mengalir lancar, membawa kesegaran dan higienitas langsung ke
jantung pemukiman.
Nafas pembangunan itu kian berembus panjang ketika Satgas
TMMD menyentuh sektor hijau. Lahan tidur seluas 1,5 hektare yang semula hanya
menjadi rumah bagi semak belukar, kini disulap menjadi area ketahanan pangan
yang produktif. Prajurit dan warga berdiri berdampingan di atas tanah merah
pesisir, mencangkul bedengan, dan menyemai benih.
Di sela-sela lumpur pantai yang mengisap kaki, komitmen
terhadap masa depan juga ditanam dalam wujud 1.000 bibit mangrove di sepanjang
garis pantai. Akar-akar kecil yang ditancapkan bersama itu kelak akan tumbuh
menjadi benteng perkasa yang menjaga Keakwa dari amukan abrasi dan hempasan
gelombang laut.
Keteladanan yang Berlumur Lumpur
Di balik kegigihan para prajurit yang tak kenal surut, ada
figur pemimpin yang memilih untuk tidak berjarak. Dansatgas TMMD Kodim
1710/Mimika, Letkol Inf Jozanda, mendefinisikan kepemimpinan bukan dari
megahnya seragam atau titah di balik meja, melainkan dari jejak boots-nya yang
berlumur lumpur pesisir.
Letkol Jozanda kerap terlihat berada di tengah barisan
prajurit, menyapa tetua adat dengan takzim, atau sekadar membagikan senyum
kepada anak-anak kampung yang mengelilinginya. Kehadirannya di garis depan
adalah pasokan moral terbesar bagi pasukan dan warga.
“Kami datang ke Keakwa bukan untuk menyelesaikan kegiatan
fisik semata. Kami datang membawa hati. Keberhasilan sejati dari TMMD ini
adalah ketika bendera persaudaraan antara TNI dan rakyat berkibar lebih tinggi
daripada bangunan yang kami dirikan,” tutur Letkol Jozanda dengan sorot mata
yang teduh namun tegas.
Sinema di Bawah Langit Papua
TMMD memahami bahwa membangun sebuah peradaban tidak boleh
berhenti pada benda mati. Jiwa manusia Keakwa juga harus disentuh. Oleh karena
itu, program nonfisik digulirkan sebagai pelengkap kuadrat pengabdian.
Penyuluhan wawasan kebangsaan, edukasi pencegahan stunting,
hingga pembagian jaring ikan bagi para nelayan dilakukan secara berkala. Polres
Mimika pun turun tangan, memberikan benteng edukasi hukum mengenai bahaya
narkoba, zat adiktif lem aibon, dan minuman keras, demi memagari masa depan
generasi muda Papua.
Ketika malam merayap, suasana kampung berubah menjadi
panggung romansa yang hangat. Layar tancap digelar di atas hamparan pasir
putih, memutar film legendaris Denias, Senandung di Atas Awan. Ratusan warga,
dari para tetua hingga balita, duduk berjejer di bawah kubah langit pesisir
yang bertabur bintang. Cahaya proyektor memantul di wajah-wajah yang tersenum,
di mana tawa, haru, dan rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia melebur
menjadi satu udara yang mereka hirup.
Apresiasi dari Tim Wasev
Di tengah berlangsungnya kegiatan TMMD, Tim Pengawasan dan
Evaluasi (Wasev) yang dipimpin Brigjen TNI Jimmy Watukseke tiba meninjau lokasi
kegiatan.
Kehadiran Tim Wasev membawa semangat baru bagi personel
Satgas dan masyarakat. Saat melihat progres pembangunan serta kebersamaan yang
terjalin erat antara prajurit dan warga, apresiasi pun diberikan.
Bagi Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika, apresiasi itu bukan
sekadar pujian. Ia menjadi pengingat bahwa setiap tetes keringat yang jatuh di
tanah Keakwa benar-benar berarti bagi rakyat.
Kebersamaan yang Menjadi Keluarga
Hari demi hari berlalu, hubungan prajurit dan warga Keakwa
tak lagi sekadar tamu dan tuan rumah. Mereka telah menjadi keluarga. Di sela
pekerjaan, mereka duduk bersama, berbagi cerita, dan tertawa di bawah langit
senja pesisir Arafura.
“Tong senang sekali bapak-bapak TNI datang di sini. Dong su
jadi keluarga baru di sini,” ungkap seorang warga dengan logat khasnya yang
jujur.
Tabuh Tifa Penutup dari Sang Panglima
Hari yang dinanti sekaligus dihindari akhirnya tiba. Pesisir
Keakwa kembali riuh, bukan oleh deru perahu logistik, melainkan oleh langkah
tegap parade militer dan dentum tifa adat yang bertalu-talu. Pangdam
XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Febriel Buyung, hadir langsung di ujung Arafura
untuk memimpin Upacara Penutupan TMMD Ke-128. Kehadiran jenderal bintang dua
ini menegaskan betapa berartinya Keakwa di mata komando tertinggi Papua.
Dalam amanatnya yang menggelegar namun sarat kehangatan,
Mayjen TNI Febriel Buyung menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh
prajurit, pemerintah daerah, dan khususnya masyarakat lokal yang telah melebur
ego demi kemajuan bersama.
"Pembangunan ini adalah bukti nyata kemanunggalan TNI
dan rakyat. Apa yang telah kita bangun bersama dengan peluh dan ketulusan di
Keakwa ini, bukan sekadar infrastruktur, melainkan jembatan masa depan.
Rawatlah dengan hati," tegas Pangdam.
Penandatanganan naskah penyerahan proyek fisik dan pemukulan
tifa secara simbolis menjadi penanda bahwa misi satu bulan penuh itu telah
tuntas dengan paripurna. Ketika genderang upacara berakhir, ketegangan barisan
militer mencair menjadi pelukan perpisahan. Tangis haru warga pecah saat
bersalaman melepas para prajurit yang kini resmi mereka panggil sebagai anak
dan saudara kandung.
Lentera Keakwa yang Tak Kan Padam
Kini, matahari senja kembali merona merah di atas cakrawala
Arafura. Pasukan Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika mungkin akan melangkah pergi,
melipat tenda-tenda mereka, dan kembali ke kesatuan masing-masing. Namun,
mereka tidak meninggalkan Keakwa dalam kondisi yang sama lagi.
Di tanah pesisir ini, TNI telah menancapkan jejak abadi yang
kasat mata rumah yang kokoh untuk berteduh, sumur bor yang memancarkan air
kehidupan, lahan hijau penyokong pangan, hingga benteng mangrove yang siap
menantang abrasi zaman.
Lebih dari sekadar semen dan kayu, TMMD Ke-128 telah
menyalakan sebuah lentera harapan di sanubari warga Keakwa. Sebuah penegasan
abadi bahwa sejauh apa pun mereka berada di beranda terluar republik ini, detak
jantung mereka selalu terdengar di Ibu Pertiwi. Dari ujung Arafura, harapan itu
kini telah menyala, terang, dan tidak akan pernah padam. (Sumber: Kodim 1710/Mimika)
Editor: Sampe Sianturi

