SALAM PAPUA (TIMIKA) – Tokoh masyarakat sekaligus pengusaha
muda asli Papua, Maximus Tipagau, mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika dan
Kabupaten Puncak bersikap tegas dan serius mengakhiri konflik berkepanjangan di
Distrik Kwamki Narama yang hingga kini telah menelan 10 korban jiwa.
Konflik yang berlangsung sejak Oktober 2025 itu dinilai
tidak lagi sekadar persoalan antarwarga, melainkan telah berkembang menjadi
krisis kemanusiaan, ancaman keamanan, serta ujian kewibawaan negara.
“Saya sangat prihatin. Pemerintah daerah memiliki tanggung
jawab konstitusional untuk hadir dan menjadi penengah. Konflik ini tidak boleh
dibiarkan berlarut-larut,” tegas Maximus, Senin (5/1/2026) di Jalan
Cendereawasih, SP2 Timika.
Ia mengingatkan bahwa Gubernur Papua Tengah Meki Fritz
Nawipa bersama Forkopimda Mimika dan Kabupaten Puncak sempat memediasi kedua
kelompok yang bertikai pada awal Desember 2025. Namun, hingga kini upaya
tersebut belum membuahkan perdamaian permanen.
Menyusul kembali jatuhnya korban jiwa pada Minggu (4/1/2026)
serta meninggalnya seorang perempuan paruh baya pada Senin (5/1/2026), Maximus
mendesak Polres Mimika bertindak tegas dengan menegakkan hukum tanpa pandang
bulu.
“Ini sangat tidak manusiawi. Aksi balas-membalas hingga
jatuh korban jiwa menunjukkan penegakan hukum tidak boleh setengah hati. Kepala
perang dari kedua kubu harus ditangkap dan diproses hukum. Negara harus hadir
dan memastikan tidak ada pihak yang kebal hukum,” ujarnya.
Ia mencatat, selain korban meninggal dunia, konflik tersebut
juga mengakibatkan korban luka, termasuk dari unsur kepolisian, yang
menunjukkan eskalasi konflik semakin mengkhawatirkan.
Selain aspek keamanan, Maximus turut menyoroti lemahnya
pendataan administrasi kependudukan di wilayah konflik. Ia meminta Pemkab
Mimika melalui Pemerintah Distrik Kwamki Narama melakukan pendataan menyeluruh
terhadap warga yang bermukim di wilayah tersebut.
“Harus jelas mana warga ber-KTP Mimika dan mana warga
Kabupaten Puncak. Ini penting agar tidak terjadi saling lempar tanggung jawab
antar pemerintah daerah,” katanya.
Meski mendorong penegakan hukum, Maximus menegaskan bahwa
pendekatan keamanan semata tidak cukup. Ia meminta kedua kepala daerah kembali
membuka ruang dialog dengan mengedepankan hukum positif yang dipadukan dengan
hukum adat.
“Pendekatan humanis dan musyawarah adat akan melahirkan
perdamaian yang lebih kokoh dan berkelanjutan, bukan sekadar penjagaan aparat,”
ujarnya.
Ia mengingatkan, pembiaran konflik berlarut-larut akan
merusak kredibilitas pemerintah daerah dan berdampak langsung pada terhambatnya
pembangunan di Papua Tengah.
“Stabilitas pembangunan tidak akan pernah terwujud selama
konflik horizontal seperti ini tidak diselesaikan hingga ke akar masalah,”
tegasnya.
Maximus juga mengenang bahwa sekitar satu dekade lalu,
Distrik Kwamki Narama yang hanya berjarak beberapa menit dari Bandara Mozes
Kilangin Timika merupakan wilayah yang aman dan kondusif.
“Ini membuktikan betapa pentingnya kehadiran pemerintah di
tengah masyarakat agar konflik sekecil apa pun bisa segera diredam sebelum
meluas,” katanya.
Sebagai solusi jangka panjang, Maximus mengusulkan agar
tradisi konflik dialihkan ke ruang budaya yang edukatif, salah satunya dengan
menghidupkan kembali Festival Kamoro Kakuru sebagai simbol kearifan lokal yang
mempersatukan.
“Dengan dukungan Otonomi Khusus dan APBD Mimika yang besar,
masyarakat asli Papua harus merasakan keamanan, kesejahteraan, dan penghormatan
atas hak-haknya,” pungkasnya. (*)
Editor: Sianturi


