SALAM PAPUA (TIMIKA) – Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan
Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Mimika terus mendorong pengembangan
ekowisata mangrove di kawasan Poumako, Distrik Mimika Timur, dengan melibatkan
masyarakat lokal, khususnya masyarakat Kamoro.
Sebagai perangkat daerah yang baru dibentuk, Disparekraf
Mimika melaksanakan kunjungan perdana sekaligus sosialisasi kepada masyarakat
RT 09 Kampung Poumako. Kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman bersama agar
masyarakat ikut menjaga serta melindungi fasilitas ekowisata mangrove yang
telah dibangun.
Kepala Disparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin, menjelaskan
bahwa pendekatan yang dilakukan menggunakan metode Piripa, yakni pola
pendekatan sesuai budaya masyarakat Kamoro. Melalui cara ini, masyarakat diajak
memahami bahwa pengembangan ekowisata mangrove dapat memberikan dampak positif
bagi kesejahteraan mereka.
“Sosialisasi kami lakukan dengan cara duduk bersama, bakar
ikan, bakar sagu, dan makan bersama. Melalui pendekatan ini, kami mengajak
masyarakat RT 09 untuk ikut menjaga dan merawat ekowisata mangrove yang ada,”
ujar Elisabeth, Selasa (20/1/2026).
Pendekatan berbasis budaya ini dinilai penting, mengingat
sebelumnya ditemukan sejumlah material pembangunan, seperti kayu tracking dan
tandon air, yang hilang.
Dalam pertemuan tersebut, masyarakat setempat juga
mengusulkan agar pembangunan tracking mangrove dilanjutkan hingga menghubungkan
kawasan ekowisata dengan Kampung Poumako. Usulan ini dimaksudkan agar tracking
dapat dimanfaatkan sebagai akses penyeberangan masyarakat, sekaligus mendukung
aktivitas sanggar seni Tikiri yang berada di kampung tersebut.
“Masyarakat menyampaikan terima kasih atas upaya
pengembangan yang dilakukan, sekaligus mengusulkan agar jalur tracking
dilanjutkan sampai ke kampung mereka,” jelas Elisabeth.
Ke depan, Disparekraf Mimika juga berencana membangun pondok
wisata sebagai tempat singgah pengunjung, serta pagar pembatas guna menjaga
keamanan kawasan dan mencegah kehilangan fasilitas. Selain itu, pengembangan
ekowisata mangrove diarahkan agar mampu menampung dan mempromosikan hasil karya
masyarakat setempat, seperti anyaman, ukiran, serta hasil tangkapan laut berupa
ikan dan karaka.
“Saya melihat RT 09 Kampung Poumako sangat potensial menjadi
kampung wisata. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk membahas bersama
masyarakat bagaimana konsep pengelolaan ekowisata ke depan,” katanya.
Elisabeth menambahkan, wilayah pesisir Kabupaten Mimika
memiliki hutan mangrove seluas kurang lebih 300 ribu hektare yang membentang
sepanjang garis pantai. Hutan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai benteng
alam, tetapi juga merupakan kawasan lindung adat yang mencerminkan identitas
budaya masyarakat Kamoro.
“Kekayaan alam ini merupakan anugerah Tuhan yang harus
dikelola secara bijaksana demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Mimika,
baik yang tinggal di pegunungan, dataran rendah, maupun pesisir,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat
merupakan konsep yang tepat untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan,
bertanggung jawab, ramah lingkungan, serta berpihak pada masyarakat kecil.
Dalam konsep ini, masyarakat lokal menjadi subjek sekaligus objek pembangunan
pariwisata, sebagai pelaku, penerima manfaat, dan bagian dari pengambilan
kebijakan.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

