SALAM PAPUA (TIMIKA)– Konflik bersenjata antara Amerika
Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah
memicu guncangan besar di pasar energi global. Dampak paling nyata terlihat
dari lonjakan harga minyak dunia yang melonjak tajam dan berpotensi menembus
angka US$100 per barel.
Data pasar menunjukkan, sejak konflik dimulai, harga minyak
mentah Brent mengalami kenaikan signifikan. Dalam kurun kurang dari dua pekan,
harga melonjak dari sekitar US$72 per barel menjadi lebih dari US$90, atau naik
sekitar 27 persen.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan
energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat
produksi minyak dunia. Konflik yang melibatkan negara-negara besar tersebut
meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak, khususnya di jalur strategis
seperti Selat Hormuz.
Selat sempit ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima
distribusi minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat
langsung berdampak pada harga energi global. Bahkan, dalam skenario terburuk,
sejumlah pihak memperingatkan harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi jika
konflik meluas atau jalur distribusi benar-benar terputus.
Ketegangan juga semakin meningkat setelah Iran
memperingatkan kemungkinan serangan terhadap jalur distribusi minyak sebagai
respons atas aksi militer yang terjadi. Kondisi ini memperbesar risiko krisis
energi global yang lebih luas.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan di kawasan
Timur Tengah, tetapi juga menjalar ke berbagai negara di dunia, terutama negara
berkembang yang bergantung pada impor energi.
Negara seperti Sri Lanka kembali menghadapi tekanan berat
akibat lonjakan harga bahan bakar. Pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM,
yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya hidup masyarakat.
Ironisnya, Iran sebagai negara produsen minyak juga
mengalami tekanan ekonomi domestik. Inflasi meningkat, harga kebutuhan pokok
melonjak, dan stabilitas ekonomi terganggu akibat dampak konflik dan sanksi.
Di kawasan Asia secara umum, sejumlah negara mulai
menghadapi krisis bahan bakar, ditandai dengan antrean panjang di SPBU,
penimbunan BBM, serta lonjakan harga energi. Negara-negara dengan konsumsi
minyak tinggi dan ketergantungan impor paling besar menjadi pihak yang paling
rentan terhadap guncangan ini.
Di Indonesia, para analis memperingatkan bahwa dampak
konflik ini dapat memicu kenaikan harga BBM serta menambah beban subsidi energi
pemerintah. Selain itu, gangguan rantai pasok global juga berpotensi
memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, perang antara Amerika Serikat, Israel,
dan Iran tidak hanya menjadi konflik geopolitik, tetapi juga telah berkembang
menjadi krisis energi global yang berdampak langsung pada perekonomian dunia.
Jika konflik terus berlanjut, tekanan terhadap harga minyak, inflasi, dan
stabilits ekonomi global diperkirakan akan semakin besar. (Sumber: Wikipedia)
Editor: Sianturi


