SALAM PAPUA (TIMIKA)- Kenaikan harga gas elpiji non subsidi
kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama di wilayah Papua yang memiliki
tantangan distribusi lebih kompleks dibanding daerah lain di Indonesia. Di
kota-kota seperti Timika, Nabire, Jayapura, Merauke, hingga wilayah pegunungan
dan pesisir yang bergantung pada jalur laut maupun udara, perubahan harga
elpiji bukan sekadar persoalan energi rumah tangga, tetapi menyentuh langsung
denyut ekonomi mikro dan keberlangsungan UMKM.
Penyesuaian harga mulai berlaku sejak 18 April 2026. Untuk
konsumen rumah tangga, LPG 5,5 kilogram naik sekitar Rp17 ribu per tabung,
sedangkan LPG 12 kilogram naik sekitar Rp36 ribu per tabung. Sementara bagi
konsumen non-rumah tangga, LPG 50 kilogram mengalami kenaikan sebesar Rp234
ribu per tabung. Biaya tebus tabung beserta isi LPG 50 kilogram juga naik pada
kisaran yang sama.
Bagi sebagian orang, kenaikan harga gas mungkin hanya
berarti tambahan pengeluaran bulanan. Namun bagi pelaku usaha kecil seperti
penjual nasi kuning, warung kopi, usaha kue rumahan, katering, penjual
gorengan, pedagang bakso, laundry, hingga usaha makanan kaki lima, elpiji
adalah salah satu komponen biaya produksi utama. Ketika harga gas naik, maka
biaya operasional ikut terdorong naik. Jika dalam satu usaha kecil dibutuhkan
tiga hingga lima tabung per minggu, maka kenaikan puluhan ribu rupiah per tabung
dapat berubah menjadi tambahan biaya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per
bulan.
Di Papua khususnya di Timika, dampaknya bisa lebih besar
karena harga barang dan jasa sejak awal sudah tinggi akibat ongkos logistik.
Kenaikan gas non subsidi akan memperberat struktur biaya yang sebelumnya sudah
mahal. Pedagang kecil yang marginnya tipis menjadi kelompok paling rentan.
Mereka tidak memiliki cadangan modal besar, tidak punya akses pinjaman murah,
dan tidak memiliki skala usaha yang memungkinkan efisiensi besar-besaran.
Akibat paling nyata dari kenaikan elpiji adalah dilema harga
jual. Jika pedagang menaikkan harga makanan atau jasa, pelanggan bisa
berkurang. Namun jika harga tidak dinaikkan, keuntungan menurun bahkan bisa
merugi. Dalam ekonomi mikro, situasi seperti ini sering membuat pelaku usaha
bertahan dengan cara mengurangi kualitas, mengecilkan porsi, atau menekan biaya
tenaga kerja. Jika berlangsung lama, daya beli masyarakat ikut terdampak.
Contohnya sederhana. Penjual gorengan yang biasa menjual
Rp2.000 per buah mungkin sulit menaikkan harga menjadi Rp3.000 karena pembeli
akan membandingkan dengan pedagang lain. Maka ia bisa memilih mengecilkan
ukuran, mengurangi isi, atau menggunakan bahan baku lebih murah.
Pilihan-pilihan ini menjaga harga tetap terlihat sama, tetapi kualitas menurun.
Jika konsumen kecewa, pelanggan bisa pindah. Maka persoalan gas akhirnya
menjalar ke kualitas produk dan loyalitas konsumen.
Bagi UMKM kuliner di Papua, tantangan ini perlu dijawab
dengan strategi cerdas, bukan sekadar menaikkan harga secara tiba-tiba.
Pertama, pelaku usaha perlu menghitung ulang struktur biaya secara rinci.
Banyak usaha kecil berjalan tanpa pencatatan sederhana. Mereka tidak tahu
berapa biaya gas per porsi, biaya minyak, listrik, bahan baku, dan tenaga
kerja. Padahal dengan pencatatan, pelaku usaha bisa tahu titik kebocoran biaya
dan menentukan penyesuaian harga yang wajar.
Kedua, jika harus menaikkan harga, lakukan bertahap dan
komunikatif. Konsumen umumnya masih bisa menerima kenaikan kecil jika kualitas
tetap baik. Misalnya menaikkan harga Rp1.000 tetapi menambah sambal,
memperbaiki kemasan, atau menjaga rasa. Konsumen lebih mudah menerima harga
naik jika merasa nilai yang diterima tetap sepadan.
Ketiga, inovasi menu dan ukuran porsi penting dilakukan.
Pelaku usaha bisa menyediakan pilihan harga berbeda: paket hemat, paket
standar, dan paket premium. Dengan begitu pelanggan punya opsi sesuai kemampuan
belanja. Strategi ini lebih efektif daripada menaikkan seluruh harga secara
seragam.
Keempat, efisiensi energi harus mulai dipikirkan. Banyak
usaha kecil boros gas karena kompor tidak efisien, api terlalu besar, atau
proses memasak tidak terencana. Mengganti regulator, menggunakan tungku yang
baik, menutup panci saat memasak, dan menyiapkan bahan sebelum kompor
dinyalakan bisa menghemat pemakaian gas cukup signifikan.
Kelima, bangun pelanggan tetap. Dalam situasi harga naik,
pelanggan loyal sangat penting. Gunakan layanan ramah, kebersihan baik, rasa
konsisten, dan promosi sederhana seperti beli sepuluh gratis satu. Konsumen
sering bertahan bukan karena harga termurah, tetapi karena percaya pada
kualitas dan pelayanan.
Namun beban ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada
UMKM. Pemerintah daerah memiliki peran penting. Pemda di Papua perlu memastikan
distribusi elpiji berjalan lancar dan tidak ada permainan harga di tingkat agen
maupun pengecer. Daerah dengan tantangan geografis berat memerlukan pengawasan
rantai pasok lebih ketat karena setiap gangguan distribusi cepat memicu
lonjakan harga.
Pemda juga bisa membuat program bantuan produktif bagi UMKM
terdampak, misalnya subsidi peralatan hemat energi, pelatihan manajemen usaha,
bantuan modal bergulir berbunga rendah, atau insentif retribusi bagi usaha
kecil tertentu. Langkah seperti ini jauh lebih produktif dibanding bantuan
sesaat.
Selain itu, pemerintah kabupaten/kota perlu mendorong
diversifikasi energi. Tidak semua UMKM harus bergantung pada satu jenis bahan
bakar. Di beberapa wilayah, penggunaan kompor listrik efisien, biomassa modern,
atau energi alternatif bisa menjadi solusi jangka panjang jika infrastruktur
mendukung.
Peran DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten) juga penting
sebagai pengawas dan penyambung aspirasi masyarakat. DPRK perlu memanggil dinas
terkait, agen distribusi, dan pihak Pertamina ketika terjadi lonjakan harga
yang tidak wajar. Mereka harus memastikan kebijakan energi daerah berpihak pada
masyarakat kecil.
DPRK juga dapat mendorong regulasi daerah yang mendukung
UMKM, seperti perlindungan usaha mikro, penyederhanaan izin, pengurangan
pungutan tidak perlu, dan penganggaran pelatihan kewirausahaan. Dalam situasi
ekonomi sulit, fungsi pengawasan anggaran menjadi krusial agar program bantuan
benar-benar sampai ke pelaku usaha kecil.
Yang tidak kalah penting, kenaikan elpiji harus menjadi
alarm bagi Papua untuk memperkuat ekonomi lokal. Ketika biaya energi naik,
usaha yang bergantung penuh pada bahan baku dari luar akan semakin terpukul.
Karena itu UMKM perlu didorong memakai bahan baku lokal: sagu, ubi, keladi,
ikan lokal, hasil kebun masyarakat, dan produk pangan setempat. Selain menekan
biaya logistik, langkah ini juga menggerakkan ekonomi kampung dan petani lokal.
Pada akhirnya, kenaikan harga gas non subsidi memang menjadi
tantangan nyata bagi ekonomi mikro Papua. Tetapi tantangan ini bisa dihadapi
jika semua pihak bergerak bersama. Pelaku usaha perlu lebih efisien dan
inovatif. Konsumen perlu menghargai kualitas. Pemerintah harus hadir menjaga
distribusi dan membantu UMKM. DPRK harus aktif mengawasi dan menyuarakan
kepentingan rakyat.
UMKM adalah tulang punggung ekonomi Papua. Jika mereka
bertahan, lapangan kerja tetap hidup, perputaran uang di pasar terus berjalan,
dan keluarga kecil tetap memiliki penghasilan. Karena itu, menjaga UMKM di
tengah kenaikan harga gas bukan sekadar soal dagangan, tetapi soal menjaga
stabilitas ekonomi rakyat.
Penulis: Sampe Sianturi


