SALAM PAPUA (TIMIKA) – Zat aditif kerap ditambahkan ke dalam berbagai jenis makanan olahan sebagai penambah cita rasa, pengawet, maupun pemercantik tampilan makanan. Meski memiliki beragam fungsi, konsumsi makanan dengan kandungan zat aditif sebaiknya dibatasi karena berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.

Zat aditif adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan selama atau setelah proses pengolahan. Penambahan zat ini umumnya bertujuan untuk mengawetkan makanan, meningkatkan rasa, memperbaiki tekstur, atau memperindah tampilan.

Jenis zat aditif sangat beragam. Bahkan vitamin dan mineral juga termasuk zat aditif, yang biasanya ditambahkan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi makanan tertentu. Namun demikian, tidak semua zat aditif aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Zat Aditif yang Sebaiknya Dihindari

Meski sebagian zat aditif memiliki manfaat, ada pula yang dinilai berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Berikut beberapa zat aditif yang umum digunakan dalam makanan beserta potensi dampaknya bagi kesehatan:

1. Pengawet

Zat pengawet seperti benzoat, nitrat, dan sulfit digunakan agar makanan tahan lebih lama. Namun, konsumsi berlebihan diduga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti peningkatan stres oksidatif, reaksi alergi, peningkatan nafsu makan, hingga risiko kanker.

2. MSG (Monosodium Glutamate)

MSG berfungsi sebagai penyedap rasa gurih. Pada sebagian orang yang sensitif, MSG dapat menimbulkan keluhan seperti sakit kepala, keringat berlebih, dan rasa mati rasa. Konsumsi MSG berlebihan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kenaikan berat badan dan sindrom metabolik.

3. Sirup Jagung Tinggi Fruktosa

Sirup jagung tinggi fruktosa banyak ditemukan dalam minuman bersoda, kue, dan permen. Jika dikonsumsi secara berlebihan, zat ini dapat menurunkan sensitivitas hormon insulin serta meningkatkan risiko obesitas dan tekanan darah tinggi.

4. Pemanis Buatan

Pemanis buatan seperti aspartam sering digunakan dalam permen karet, sereal, agar-agar, dan minuman ringan. Berdasarkan uji klinis pada hewan, konsumsi berlebihan pemanis buatan diduga dapat meningkatkan risiko kanker. Selain itu, aspartam juga dikaitkan dengan munculnya gejala depresi pada individu dengan gangguan suasana hati.

5. Sodium Nitrat

Sodium nitrat kerap digunakan sebagai pengawet, penyedap, sekaligus pemberi warna kemerahan pada daging olahan. Saat dipanaskan, zat ini dapat berubah menjadi nitrosamin, senyawa yang diketahui meningkatkan risiko kanker saluran pencernaan.

6. Gula

Meski berasal dari bahan alami, konsumsi gula berlebihan tetap berbahaya. Asupan gula yang tinggi dan berlangsung lama dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, serta penyakit jantung.

7. Garam

Garam atau sodium digunakan untuk memberikan rasa asin pada makanan. Namun, konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.

Beragam zat aditif dalam makanan memang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Namun, faktor gaya hidup juga berperan besar terhadap timbulnya berbagai penyakit.

Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti berolahraga secara rutin, mencukupi waktu tidur, mengelola stres dengan baik, menghindari kebiasaan merokok, serta membatasi konsumsi minuman beralkohol.

Untuk mengurangi asupan zat aditif, masyarakat disarankan lebih sering mengonsumsi makanan yang diolah sendiri dibandingkan makanan olahan atau cepat saji. Dengan memasak sendiri, jumlah bahan tambahan dapat dikontrol sesuai kebutuhan tubuh.

Agar lebih tepat dalam mencegah paparan zat aditif berbahaya dan memenuhi kebutuhan nutrisi harian, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga sangat dianjurkan. (Sumber: Alodokter)

Editor: Sianturi