SALAM PAPUA (TIMIKA)- Ketergantungan ekonomi Kabupaten
Mimika terhadap aktivitas PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali diuji. Insiden
yang terjadi di area operasional tambang pada 2025 tidak hanya berdampak pada
produksi dan keselamatan kerja, tetapi juga berimbas langsung pada penerimaan
pajak, APBD, serta perputaran ekonomi masyarakat.
Data KPP Pratama Timika menunjukkan penerimaan pajak hingga
akhir 2025 baru mencapai sekitar 60 persen dari target. Kondisi ini berbanding
terbalik dengan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mimika yang justru
melampaui target hingga Rp500 miliar. Kontras ini menegaskan satu hal penting:
ekonomi Mimika masih sangat rentan terhadap gangguan di sektor pertambangan,
meski upaya penguatan pendapatan daerah mulai menunjukkan hasil.
Situasi tersebut seharusnya menjadi refleksi serius bagi
Pemerintah Kabupaten Mimika. Selama struktur ekonomi daerah masih bertumpu pada
satu sektor dominan, setiap gangguan di Freeport akan selalu berpotensi
mengguncang stabilitas fiskal dan ekonomi lokal.
Langkah pertama yang perlu dilakukan Pemda Mimika adalah
mempercepat diversifikasi ekonomi. Pengembangan sektor non-tambang seperti
perikanan, pertanian lokal, peternakan, pariwisata berbasis alam dan budaya,
serta UMKM harus dijalankan secara terencana dan berkelanjutan. Diversifikasi
bukan hanya soal meningkatkan PAD, tetapi juga menciptakan sumber lapangan
kerja alternatif bagi masyarakat.
Selain itu, capaian PAD yang telah melampaui target perlu
dijadikan pijakan untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah. Optimalisasi
pajak dan retribusi daerah harus dibarengi dengan perbaikan sistem pendataan,
digitalisasi pemungutan, serta pengawasan ketat agar tidak terjadi kebocoran
penerimaan. PAD yang kuat dapat berfungsi sebagai bantalan fiskal ketika
penerimaan dari sektor tambang mengalami penurunan.
Pemda Mimika juga perlu mempertimbangkan pembentukan dana
cadangan atau buffer fiskal daerah. Dana ini penting untuk menjaga
kesinambungan belanja publik, khususnya di sektor pelayanan dasar seperti
kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial, ketika terjadi tekanan fiskal
akibat gangguan operasional tambang.
Di sisi lain, menjaga daya beli masyarakat harus menjadi
prioritas utama. Ketika aktivitas Freeport melambat, sektor-sektor pendukung
seperti jasa, perdagangan, dan transportasi ikut tertekan. Program padat karya,
belanja pemerintah yang pro-ekonomi lokal, serta perlindungan UMKM dapat
menjadi instrumen penting agar roda ekonomi tetap berputar.
Koordinasi yang kuat antara Pemda Mimika, pemerintah pusat,
dan manajemen PTFI juga tidak kalah penting. Akses informasi yang lebih awal
terkait proyeksi produksi dan potensi gangguan akan membantu pemerintah daerah
menyusun kebijakan fiskal yang lebih antisipatif dan realistis.
Pada akhirnya, setiap insiden di Freeport seharusnya tidak
hanya dipandang sebagai persoalan teknis pertambangan, tetapi juga sebagai
pelajaran kebijakan bagi Mimika. Tanpa keberanian untuk memperbaiki struktur
ekonomi dan memperkuat kemandirian fiskal, ketergantungan terhadap Freeport
akan terus menjadi sumber kerentanan bagi pembangunan daerah.
Mimika membutuhkan ekonomi yang lebih seimbang dan tahan
guncangan. Insiden di Freeport harus menjadi titik balik, bukan sekadar catatan
tahunan yang berulang tanpa perubahan berarti.
Ketergantungan ekonomi Kabupaten Mimika terhadap aktivitas
PT Freeport Indonesia (PTFI) telah lama menjadi kekuatan sekaligus kerentanan.
Di satu sisi, sektor pertambangan menjadi motor utama perekonomian daerah.
Namun di sisi lain, setiap insiden, penurunan produksi, atau gangguan
operasional di Freeport hampir selalu berdampak langsung pada penerimaan pajak,
stabilitas APBD, penyerapan tenaga kerja, serta perputaran ekonomi lokal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Mimika masih
sangat sensitif terhadap dinamika sektor tambang. Oleh karena itu, Pemerintah
Kabupaten Mimika dituntut untuk mengambil langkah-langkah strategis agar
gangguan di Freeport tidak terus-menerus mengguncang stabilitas ekonomi daerah.
Penguatan koordinasi dengan pemerintah pusat dan manajemen
PTFI juga tidak kalah penting. Komunikasi yang terbuka dan terstruktur akan
membantu Pemda Mimika memperoleh informasi lebih awal terkait proyeksi
produksi, potensi gangguan operasional, serta dampaknya terhadap penerimaan
daerah. Dengan demikian, kebijakan fiskal dapat disusun secara lebih
antisipatif dan realistis.
Pada akhirnya, setiap insiden di Freeport harus dijadikan
pelajaran kebijakan, bukan sekadar peristiwa teknis pertambangan. Evaluasi
tidak hanya perlu dilakukan dari sisi keselamatan kerja, tetapi juga dari
dampaknya terhadap ekonomi daerah. Pengalaman ini harus menjadi dasar
penyusunan kebijakan ekonomi Mimika yang lebih tahan krisis dan berorientasi
jangka panjang.
Kesimpulan, agar stabilitas ekonomi Mimika tidak terus
bergantung pada kondisi Freeport, Pemda harus berani keluar dari zona nyaman.
Optimalisasi PAD, diversifikasi ekonomi, penguatan daya beli masyarakat, serta
kesiapan fiskal merupakan kunci agar setiap gangguan di sektor tambang tidak
lagi berujung pada guncangan ekonomi daerah.
Penulis: Sianturi


