SALAM PAPUA (TIMIKA) – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat
Kabupaten (DPRK) Mimika menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Unit
Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Mozes Kilangin Timika, di ruang serbaguna
DPRK Mimika, Kamis (29/1/2026).
RDP tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan
sebelumnya bersama Dinas Perhubungan (Dishub), yang membahas kepastian layanan
penerbangan subsidi angkutan udara perintis ke wilayah Duma, Distrik Duma,
Kabupaten Paniai.
Ketua Komisi IV DPRK Mimika, Elinus Balinol Mom, mengatakan
masyarakat Duma menyuarakan kebutuhan mendesak terhadap kejelasan layanan
transportasi udara sebagai satu-satunya akses utama keluar-masuk wilayah
tersebut.
Namun demikian, berdasarkan penjelasan Dishub, pelaksanaan
subsidi penerbangan melalui APBD hanya dapat dilakukan untuk wilayah yang masuk
dalam administrasi Kabupaten Mimika, sesuai dengan kewenangan daerah.
“Meski secara administratif Duma masuk Kabupaten Paniai,
tetapi secara sosial, budaya, dan hubungan emosional, masyarakat Duma
merupakan bagian dari komunitas Amungme Selatan. Aktivitas mereka sehari-hari
lebih terhubung ke Mimika, termasuk dalam akses pelayanan penerbangan
perintis,” ujar Elinus.
Oleh karena itu, RDP dilakukan bersama UPBU agar DPRK Mimika
memperoleh informasi yang utuh sebagai bahan pembahasan lanjutan bersama Bupati
Mimika, baik terkait kemungkinan dukungan melalui APBD maupun APBN.
Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui bahwa persoalan
jaminan keamanan serta ketersediaan armada pesawat menjadi kendala utama, dan
hal ini akan dibahas lebih lanjut bersama Bupati Mimika.
“Transportasi udara ini menyentuh semua sektor, mulai dari
pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pelayanan dasar lainnya. Kami akan
mendorong agar solusi segera ditemukan,” tegas Elinus.
Sementara itu, Kepala Seksi Teknik Operasi, Keamanan, dan
Pelayanan Darurat UPBU Mozes Kilangin Timika, Fatahillah, mengungkapkan bahwa
terakhir kali penerbangan perintis ke Duma dilayani pada tahun 2023.
Pada tahun 2024, UPBU telah kembali mengusulkan rute
tersebut, namun terkendala persoalan keamanan dan keterbatasan armada. Dari 14
rute yang seharusnya dilayani pesawat Pilatus, hanya enam rute yang berhasil
dikontrakkan, itupun melalui proses yang cukup alot akibat trauma operator
terhadap kejadian pada tahun 2023.
“Rute termasuk Duma akhirnya tidak bisa kami layani dan
dialihkan ke pemerintah daerah. Namun Pemkab Mimika hanya melayani wilayah
dalam administrasi Kabupaten Mimika. Di sisi lain, kami juga mengalami
keterbatasan armada PAC dan Pilatus,” jelasnya.
Ia menambahkan, karena belum adanya jaminan keamanan, pada
tahun 2026 UPBU tidak mengajukan permohonan rute Duma.
“Jika ada jaminan keamanan dari pemerintah daerah dan upaya
melobi maskapai agar bersedia masuk, kami siap mengusulkan kembali. Masalah
utamanya saat ini, operator belum percaya bahwa situasi sudah aman,” pungkas
Fatahillah.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

