SALAM PAPUA (NABIRE) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggelar Sosialisasi Nasional Indonesia's Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 ke Provinsi Papua Tengah, yang diselenggarakan di ballroom kantor Gubernur, jalan Sisingamangaraja, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Rabu pagi (11/2/2026).

‎Dewan Penasehat Ahli OMO IFNS 2030, Ruandha Agung Sugardiman mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan agenda strategis dalam rangka memperkuat pemahaman dan implementasi Indonesia's Folu Net Sink 2030, khususnya di Papua Tengah.

"Indonesia Indonesia's Folu Net Sink 2030 merupakan komitmen Indonesia kepada dunia internasional yang dituangkan dalam National Evaluation Commission atau MDC sebagai pindahan dari perjanjian Paris," ujarnya.

Komitmen ini bertujuan untuk mengatasi angka kenaikan suhu global 1,5 derajat Celcius dan tetap berada di bawah 2 derajat Celcius, dibandingkan masalah pra-industri maupun upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

"Dalam konteks sektor kehutanan dan penggunaan lahan, Indonesia menargetkan penyerapan bersih emisi atau net sink sebesar minus 140 juta ton CO2 pada tahun 2030," jelasnya.

Dia mengungkapkan, target ini merupakan angka yang ambisius namun sangat mungkin dicapai apabila didukung oleh kebijakan yang kuat serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Sebagai dasar komplementasi kebijakan Indonesia Indonesia's Folu Net Sink 2030 telah ditetapkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 100 tahun 2014 yang memuat Rencana Operasional Indonesia Skolunasing 2030 Nasional yang kemudian perlu dipikirkan pada tingkat sub nasional atau provinsi," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut dia, dibutuhkan dukungan dan kolaborasi multi pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, serta mitra pembangunan.

"Hubungan ini tidak hanya berupa pembicaraan dan program, tetapi juga hubungan yang memadai serta perencanaan yang terintegrasi. Oleh karena itu, setiap provinsi perlu menyusun perencanaan kerja sub nasional Indonesia 2030 sebagai penjabaran dari perencanaan operasional nasional," katanya.

Dia mengatakan, hal ini menjadi panduan penting bagi daerah dalam mengintegrasikan aksi mitigasi perubahan iklim ke dalam program pembangunan daerah.

"Antara operasional Provinsi 2030 dilaksanakan melalui berbagai langkah strategis, di antaranya perubahan lanjut deklarasi hutan, pengelolaan hutan secara lestari, pengembangan perhutanan sosial, rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi gamut dan perbaikan tata air, perlindungan dan rehabilitasi mangrove, konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta yang penting juga adalah pengelolaan instrumen, kebijakan, sistem monitoring, dan evaluasi," tuturnya.

Sejak tahun 2025,  pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang nilai ekonomi karbon atau MTK. Peraturan ini menjadi landasan kebijakan nasional dalam pengelolaan hutan secara lestari, perbuatan hutan, dan perkembangan perhutanan secara lestari.

Menurutnya, melalui kebijakan ini, aksi mitigasi perubahan iklim tidak hanya diposisikan sebagai kewajiban lingkungan tetapi juga sebagai peluang penciptaan nilai tambah ekonomi. Dalam konteks ini, Indonesia untuk NEC 2030 memperoleh dukungan kebijakan yang semakin kuat, termasuk kepastian hukum dalam pembiayaan, insentif ekonomi, serta pencatatan kontribusi penurunan emisi secara nasional guna menghindari global warming.

"Dengan demikian, Kompetensi 2030 tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pencapaian target iklim nasional, tetapi juga sebagai penggerak kembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di tingkat nasional, provinsi dan termasuk daerah," katanya.

Melalui sosialisasi ini, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di Provinsi Papua Tengah untuk menjadikan momentum hari ini sebagai titik awal penguatan komitmen dan aksi nyata terhadap Indonesia World Launching 2030 di Papua.

Dengan semangat, kebersamaan, dan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia usaha, serta mitra pembangunan akan menjadi kunci keberhasilan.

Penulis: Elias Douw

Editor: Jimmy