SALAM PAPUA (KIWIROK) — Di tengah suasana Idul Fitri yang
identik dengan kehangatan keluarga, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk
pulang dan berkumpul bersama orang tercinta. Di Distrik Kiwirok, kehadiran
aparat keamanan justru menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan agar
masyarakat tetap dapat beraktivitas dengan aman.
Bagi sebagian besar masyarakat, Idul Fitri adalah momen
kebersamaan. Namun di Kiwirok, realitasnya berbeda. Rasa aman belum sepenuhnya
hadir secara otomatis. Aktivitas sederhana seperti pergi ke pasar, mengakses
layanan kesehatan, hingga mengantar anak ke sekolah masih bergantung pada
situasi keamanan yang dinamis.
Di tengah kondisi tersebut, harapan masyarakat tetap
sederhana hidup dengan tenang. Orang tua ingin anak-anak mereka belajar tanpa
rasa takut, pedagang kecil berharap bisa membuka lapak dengan aman, dan
keluarga ingin menjalani hari tanpa bayang-bayang ancaman.
Dalam situasi ini, peran Satgas Operasi Damai Cartenz 2026
tidak hanya sebagai simbol kehadiran negara. Aparat menjalankan tugas dengan
pendekatan terukur, mengedepankan pengamanan wilayah, penegakan hukum, serta
memastikan setiap langkah dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal
Ramadhani, menegaskan bahwa upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada
keamanan, tetapi juga membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
“Upaya ini untuk memastikan masyarakat dapat hidup dalam
suasana aman, penuh kebersamaan, dan saling melindungi. Stabilitas bukan hanya
soal kondisi kondusif, tetapi juga tentang tumbuhnya kepercayaan dan
persaudaraan,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan tidak semata penindakan, tetapi
juga perlindungan. Di sejumlah titik, kehadiran aparat mulai membuka ruang bagi
masyarakat untuk kembali beraktivitas. Anak-anak perlahan kembali bersekolah,
interaksi sosial mulai pulih, dan roda ekonomi kecil kembali bergerak.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma
Sinaga, menambahkan bahwa pendekatan di lapangan mengedepankan keseimbangan
antara penegakan hukum dan pendekatan humanis.
“Kami hadir bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga
memberikan rasa tenang. Kami membangun komunikasi, mendengar kebutuhan
masyarakat, dan memastikan setiap langkah memberi manfaat nyata,” jelasnya.
Pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam menjaga
stabilitas jangka panjang. Aparat berinteraksi langsung dengan masyarakat,
mendengarkan aspirasi, serta membangun kepercayaan sebuah fondasi yang dinilai
lebih kuat dibanding sekadar pendekatan keamanan semata.
Menjaga keamanan di wilayah dengan tantangan kompleks
seperti Kiwirok bukanlah pekerjaan instan. Dibutuhkan konsistensi, kesabaran,
dan kebijakan berkelanjutan agar stabilitas benar-benar dirasakan masyarakat.
Di balik itu semua, para personel tetap menjalankan tugas
jauh dari keluarga, termasuk di momen hari raya. Mereka menahan rindu, demi
memastikan masyarakat dapat merasakan ketenangan.
Pada akhirnya, ketenangan bukan sekadar kondisi yang
terkendali, tetapi tentang bagaimana harapan masyarakat terus dijaga hari demi
hari melalui kerja nyata yang berlandaskan nilai kemanusiaan. (Sumber: Satgas
ODC 2026)
Editor: Sianturi


