SALAM PAPUA (TIMIKA)- Intermittent fasting (pola makan berselang) adalah metode
mengatur pola makan dengan cara membagi waktu antara makan dan berpuasa. Metode
ini diyakini memiliki banyak manfaat, mulai dari membantu menurunkan berat
badan hingga menjaga kestabilan kadar gula darah.
Tidak seperti diet pada umumnya yang berfokus pada
pembatasan jenis atau jumlah makanan, intermittent fasting menitikberatkan pada
waktu kapan Anda boleh makan. Metode ini dianggap lebih fleksibel karena Anda
tetap bisa menikmati hidangan favorit tanpa harus menghitung kalori.
Namun, intermittent fasting atau diet IF bukan sekadar
menunda waktu makan. Pola makan ini membantu tubuh memanfaatkan cadangan energi
dengan lebih efisien, sekaligus memberi waktu bagi saluran pencernaan untuk
beristirahat.
Meski demikian, reaksi setiap orang saat menjalani
intermittent fasting bisa berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mengenal
beberapa jenis intermittent fasting, efek samping yang mungkin ditimbulkan, dan
cara menjalaninya supaya tetap aman dan nyaman.
Manfaat Intermittent Fasting untuk Kesehatan
Selain praktis dan fleksibel, intermittent fasting juga
diketahui memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan apabila dijalani dengan
benar. Berikut beberapa manfaat intermittent fasting yang bisa Anda rasakan:
1. Menurunkan berat badan
Dengan membatasi waktu makan, asupan kalori harian akan
berkurang. Pola ini juga membantu tubuh menggunakan cadangan lemak sebagai
sumber energi, sehingga efektif untuk menurunkan berat badan.
2. Mengatur kadar gula darah
Intermittent fasting dapat membantu menstabilkan kadar gula
darah dan meningkatkan sensitivitas insulin, khususnya pada orang yang berisiko
mengalami diabetes tipe 2. Namun, penderita diabetes tetap harus berkonsultasi
ke dokter sebelum mencoba metode ini ya.
3. Menjaga kesehatan jantung
Beberapa penelitian menunjukkan intermittent fasting
berpotensi menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan tekanan darah. Hal ini
dapat membantu menjaga kesehatan jantung serta pembuluh darah.
4. Membantu proses detoksifikasi alami
Saat tubuh berpuasa, proses perbaikan sel dan pembuangan zat
sisa metabolisme berlangsung lebih optimal. Dengan begitu, metode intermittent
fasting bisa membantu detoksifikasi tubuh secara alami.
Meskipun banyak manfaat yang ditawarkan, efek intermittent
fasting bisa berbeda untuk setiap orang. Yang terpenting adalah memilih pola
makan yang sesuai kebutuhan dan tetap memperhatikan asupan nutrisi harian.
Jenis-Jenis Intermittent Fasting
Intermittent fasting menawarkan beberapa pola yang bisa
disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan masing-masing individu. Tidak ada
aturan wajib untuk memulai dari metode tertentu, sehingga Anda bisa memilih
yang paling nyaman atau cocok untuk tubuh.
Berikut beberapa metode atau jadwal intermittent fasting
yang cukup populer dan bisa Anda pilih:
1. Metode puasa 16/8
Pada metode ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama 16
jam dan memiliki waktu makan 8 jam. Misalnya, makan mulai pukul 12.00–20.00,
lalu berpuasa hingga keesokan harinya. Saat puasa, Anda tetap diperbolehkan
minum air putih, teh, atau kopi tanpa gula kok.
2. Metode puasa 5:2
Pada metode intermittent fasting ini, Anda punya waktu lima
hari dalam seminggu untuk makan seperti biasa. Sementara itu, pada dua hari
lainnya, asupan kalori dibatasi sekitar 500–600 kalori per hari. Anda bebas
memilih hari yang paling sesuai dengan pembatasan kalori ini.
3. Metode eat-stop-eat
Metode yang satu ini mungkin terdengar cukup ekstrem, sebab
Anda perlu berpuasa penuh selama 24 jam, setidaknya satu atau dua kali
seminggu. Misalnya, waktu makan terakhir adalah pukul 7 malam, maka Anda baru
boleh makan lagi pada jam yang sama keesokan harinya.
Selama puasa, hanya air putih atau minuman tanpa kalori yang
boleh dikonsumsi.
4. Metode alternate-day fasting
Metode ini mengatur pola makan secara bergantian antara hari
puasa dan hari makan normal. Pada hari puasa, sebagian orang memilih tidak
makan sama sekali atau hanya mengonsumsi sedikit makanan, yaitu sekitar 500
kalori. Barulah keesokan harinya Anda diperbolehkan makan seperti biasa tanpa
pembatasan kalori.
Jika Anda baru ingin mencoba intermittent fasting, penting
untuk melakukan adaptasi agar tubuh tidak kaget. Nah, berikut ini adalah
beberapa tips memulai intermittent fasting yang bisa diterapkan:
Mulailah secara perlahan, misalnya dengan metode 12/12
(puasa 12 jam, makan 12 jam), baru tingkatkan durasinya. Pilih waktu makan
sesuai dengan aktivitas harian. Banyak minum air putih saat puasa untuk
mencegah dehidrasi.
Hindari melakukan olahraga berat selama waktu puasa. Selain
itu, Anda juga perlu berkonsultasi ke dokter sebelum memulai intermittent
fasting, terlebih jika memiliki penyakit kronis, sedang hamil/menyusui, atau
berusia di bawah 18 tahun. Perlu diingat, intermittent fasting tidak cocok
untuk semua orang. Jadi, selalu dengarkan sinyal tubuh dan jangan pernah
memaksakan diri ya.
Efek Samping Intermittent Fasting yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa efek samping yang perlu diwaspadai saat
menjalani intermittent fasting, terutama bila Anda baru saja memulainya, yaitu:
Rasa lapar berlebihan, tubuh lemas, pusing, dan sulit
konsentrasi, gangguan tidur, gangguan pencernaan, perubahan suasana hati, hipoglikemia
atau gula darah turun drastic, siklus menstruasi tidak teratur. Perlu diingat,
efek samping intermittent fasting ini umumnya bersifat sementara dan bisa
membaik setelah tubuh menyesuaikan diri.
Namun, jika keluhan terasa berat, berlangsung lama, atau
Anda memiliki kondisi medis tertentu, seperti diabetes, sebaiknya konsultasikan
terlebih dahulu ke dokter sebelum memulai intermittent fasting. Tujuannya agar
pola makan ini tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan Anda. (Sumber:
Alodokter)
Editor: Sianturi


