SALAM PAPUA (TIMIKA)- Fight or
flight adalah respons alami tubuh ketika menghadapi stres, ketakutan, atau
ancaman. Dalam situasi tertekan, jantung akan berdebar, tubuh menegang, dan
pikiran jadi lebih waspada. Hal ini mempersiapkan Anda untuk bertindak, baik
melawan maupun menghindar dari bahaya.
Respons fight or flight adalah
bagian dari sistem pertahanan tubuh. Begitu otak mendeteksi adanya bahaya,
tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin yang memicu perubahan
fisik.
Meski awalnya membawa manfaat
untuk bertahan hidup, reaksi ini dapat muncul secara berlebihan, terutama pada
kondisi seperti gangguan kecemasan.
Selain respons fight or flight,
tubuh juga mengenal mekanisme lain saat menghadapi ancaman ekstrem, seperti
freeze (tiba-tiba membeku) atau tonic immobility (kelumpuhan sementara). Namun,
fight or flight adalah tahapan awal yang paling cepat muncul sebagai reaksi
spontan terhadap situasi menegangkan.
Respons Fight or Flight dan
Mekanismenya
Respons fight or flight adalah
reaksi otomatis tubuh untuk melindungi diri ketika menghadapi bahaya atau
situasi penuh tekanan. Mekanisme ini melibatkan berbagai proses di dalam tubuh
yang berlangsung hanya dalam hitungan detik.
Berikut penjelasan rinci setiap
tahapannya:
1. Aktivasi otak dan sistem saraf
Saat Anda menghadapi sesuatu yang
dianggap mengancam, misalnya suara keras secara tiba-tiba atau situasi
menegangkan di tempat kerja, bagian otak yang bernama amigdala akan langsung
bereaksi. Amigdala berperan sebagai “alarm” yang mendeteksi bahaya dan memutuskan
apakah kondisi ini benar-benar mengancam.
Jika iya, amigdala segera
mengirimkan sinyal ke hipotalamus, yang berfungsi sebagai pusat kendali respons
tubuh. Hipotalamus kemudian mengaktifkan sistem saraf otonom, khususnya saraf
simpatik, yang bertanggung jawab atas reaksi fight or flight.
2. Pelepasan hormon stres
Setelah sistem saraf simpatik
aktif, tubuh melepaskan sejumlah hormon stres, terutama adrenalin (epinefrin)
dan kortisol, dari kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Adrenalin
bekerja cepat, membuat detak jantung meningkat dan napas menjadi lebih cepat
untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh.
Sementara itu, kortisol menjaga
tubuh tetap siaga dengan meningkatkan gula darah, sehingga otot-otot memperoleh
energi tambahan untuk menghadapi atau melarikan diri dari bahaya.
3. Perubahan fisik
Akibat pelepasan hormon stres,
tubuh mengalami berbagai perubahan yang bisa langsung Anda rasakan. Jantung
berdebar lebih kencang untuk mengalirkan darah ke otot-otot besar, sedangkan
napas menjadi dangkal dan cepat agar kebutuhan oksigen tetap tercukupi.
Otot-otot tubuh menegang, tekanan
darah naik, telapak tangan dan kaki berkeringat, bahkan pupil mata membesar
agar Anda bisa melihat lebih jelas. Semua perubahan ini bertujuan memastikan
tubuh siap untuk bereaksi secara optimal dalam waktu singkat.
4. Fokus dan kesiagaan meningkat
Di tengah ancaman, otak
meningkatkan konsentrasi dan memprioritaskan informasi yang penting. Anda
mungkin merasakan bahwa perhatian hanya tertuju pada sumber bahaya, sedangkan
hal-hal lain di sekitar seolah tidak diperhatikan.
Tubuh mengalihkan semua energi
untuk bertahan hidup, sehingga Anda bisa berpikir lebih cepat, merespons lebih
sigap, dan mengambil keputusan dengan segera, misalnya memutuskan untuk melawan
atau berlari.
5. Perubahan fisiologis lainnya
Selain perubahan yang langsung
terasa, sistem tubuh lain juga ikut beradaptasi. Salah satunya, sistem
pencernaan “diredam” untuk sementara karena tubuh lebih fokus mengalirkan darah
ke bagian otot. Akibatnya, Anda bisa mengalami mulas, mual, ingin buang air
kecil, atau bahkan perut terasa melilit.
Proses ini adalah reaksi alamiah
agar seluruh sumber daya tubuh diarahkan untuk bertahan menghadapi ancaman.
Dengan memahami mekanisme ini,
Anda dapat mengenali kapan tubuh sedang berada dalam mode fight or flight,
sehingga bisa lebih bijak dalam mengelola stres dan mengambil langkah tepat
untuk menjaga kesehatan. (Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi


