SALAM PAPUA (NABIRE) – Aksi unjuk rasa yang digelar Front Rakyat Bergerak (FRB) di halaman Kantor DPR Provinsi Papua Tengah, Selasa (7/4/2026), berlangsung aman dan tertib. Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan delapan poin tuntutan yang berkaitan dengan situasi sosial, ekonomi, hingga keamanan di Tanah Papua.
Ketua DPR Papua Tengah, Delius Tabuni, menerima langsung
perwakilan massa untuk mendengarkan aspirasi mereka. Proses penyampaian
tuntutan berlangsung kondusif dengan pengawalan aparat keamanan.
FRB menyampaikan sejumlah tuntutan utama, di antaranya
penutupan operasi PT Freeport Indonesia serta pengembalian hak kedaulatan
rakyat Amungsa. Massa juga menyoroti persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK)
terhadap sekitar 8.300 buruh mogok kerja yang dinilai berdampak luas terhadap
kondisi sosial-ekonomi keluarga pekerja.
Selain itu, massa menolak rencana pembangunan Pulau Biak
sebagai bandara antariksa dan pusat peluncuran satelit, termasuk kehadiran
pihak asing dan fasilitas militer yang dinilai berpotensi mengancam hak
masyarakat adat.
Tuntutan lainnya meliputi penghentian operasi militer di
seluruh wilayah Papua, penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dianggap
merampas tanah adat, serta penghentian eksploitasi sumber daya alam oleh
perusahaan ilegal.
FRB juga mendesak pemberian hak penentuan nasib sendiri bagi
rakyat Papua sebagai solusi demokratis, serta mengecam dugaan kekerasan
terhadap masyarakat sipil di Dogiyai. Mereka meminta agar pelaku pelanggaran
HAM segera diusut dan diadili secara adil.
Usai menerima aspirasi, Delius Tabuni menyatakan bahwa
pihaknya menerima seluruh tuntutan yang disampaikan dan akan menindaklanjutinya
sesuai mekanisme yang berlaku.
“Aspirasi ini akan kami teruskan dan koordinasikan dengan
pihak terkait di tingkat provinsi maupun pusat,” ujarnya di hadapan massa aksi.
Ia juga mengapresiasi jalannya demonstrasi yang berlangsung
damai tanpa insiden berarti.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi


