SALAM PAPUA (NABIRE) - Mahasiswa Universitas Satya
Wiyata Mandala (Uswim) Nabire, Papua Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di
halaman kampus, depan kantor Rektorat Kamis (7/5/2026).
Massa yang datang dengan membawa berbagai aspirasi ini
membawa tiga tuntutan pokok kepada pihak rektorat, yakni pengaktifan kembali
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), penyediaan fasilitas kampus yang layak, serta
penurunan uang semester yang dinilai membebani.
Kordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Feri Yobe, saat
membacakan pernyataan sikap di hadapan rektorat menegaskan kampus yang telah
berdiri sejak 6 September 2004 ini seharusnya semakin matang dalam mencetak
intelektual.
Namun kata dia, pada kenyataannya mahasiswa merasa hak-hak
mereka diabaikan meski kewajiban pembayaran administrasi tetap dijalankan
secara penuh.
“Kehadiran BEM dalam sebuah Perguruan Tinggi memiliki
kedudukan yang sangat besar dalam struktur akademisi. Namun pihak kampus seolah
membungkam dan tidak ingin menghadirkan lembaga ini. Kami bekerja tanpa garis
koordinasi yang jelas antara mahasiswa dan dosen. Ditambah lagi, fasilitas
seperti perpustakaan, toilet, Wi-Fi, dan laboratorium sangat tidak memadai.
Kami menuntut transparansi dan hak kami dikembalikan,” tegas Feri Yobe dalam
pernyataannya.
Feri juga menyoroti vakumnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
selama beberapa tahun terakhir, yang menurutnya membuat aspirasi mahasiswa
tersumbat.
Ia meminta Rektor segera memfasilitasi pembentukan BEM
sebagai wadah tertinggi kemahasiswaan dan mendesak penurunan biaya SPP serta
uang pembangunan yang dianggap melonjak tinggi di tengah fasilitas yang minim.
Menanggapi tuntutan tersebut, Rektor Uswim, Petrus Tekege,
yang menemui langsung para demonstran mengatakan pihak kampus tidak pernah
melarang keberadaan BEM.
"Ia mengungkapkan selama ini pembentukan BEM sering
terkendala oleh konflik internal antar mahasiswa sendiri yang menyebabkan
organisasi tersebut tidak berjalan efektif," katanya.
Menurut Petrus, BEM itu penting dan akan segera dibentuk
setelah bulan Agustus mendatang, karena saat ini masih fokus pada persiapan
ujian semester. Dulu BEM aktif, tapi kemudian hilang karena saling curiga di
antara pengurus.
“Selama sembilan bulan saya menjabat, saya lebih mendorong
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Mapala yang terbukti kegiatannya sangat
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.
Terkait keluhan fasilitas, Petrus mengakui adanya kekurangan
namun meminta mahasiswa untuk turut menjaga sarana yang ada.
"Mengenai toilet, saya berjanji akan segera menambah
unit baru namun ia berharap mahasiswa menjaga dan mengedepankan kebersihan
fasilitas tersebut," katanya.
Sementara untuk akses internet, Dia mengklaim bahwa Wi-Fi
gratis sebenarnya sudah tersedia melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi
Papua Tengah sejak Februari lalu.
“Hanya saja dua minggu terakhir ada gangguan di pusat dan
perubahan password. Passwordnya sudah dibagikan dua hari lalu, bukan karena
kalian mau demo, tapi memang visi saya sejak awal adalah menyediakan akses
internet bebas bagi mahasiswa. Untuk perpustakaan permanen, kami sedang
berproses dengan pemerintah provinsi,” ungkapnya.
Mengenai tuntutan penurunan biaya kuliah, Petrus menegaskan
bahwa selama 11 tahun terakhir, Uswim tidak pernah menaikkan biaya SPP maupun
SKS. Ia menjelaskan bahwa biaya yang berlaku saat ini adalah tarif tahun 2014
dan pihak kampus justru sedang memperjuangkan kuota beasiswa yang lebih besar
bagi mahasiswa.
“SPP tidak pernah naik seribu rupiah pun selama sebelas
tahun ini. Jika dituntut turun, lalu saya mau bangun kampus pakai apa? Saya
baru menjabat sembilan bulan, jadi mari kita bersyukur dengan apa yang ada dan
sama-sama membangun,” jelas Petrus.
Dia menambahkan bahwa pihak rektorat bekerja keras melobi
pemerintah daerah agar beban finansial mahasiswa dapat diringankan melalui
program bantuan pendidikan.
“Pemerintah Provinsi Papua Tengah awalnya mengalokasikan
bantuan untuk 1.218 orang mahasiswa Uswim. Namun saya terus berjuang melakukan
negosiasi sampai akhirnya kita berhasil mendapatkan kuota untuk 1.967 orang
mahasiswa yang menerima beasiswa pendidikan. Ini adalah bentuk perjuangan saya
untuk anak-anak saya di sini karena saya tahu kondisi ekonomi kalian,” ungkap
Petrus.
Senada dengan Petrus, Ketua Yayasan Wiyata Cenderawasih, Martha
Pigome menyatakan dukungannya untuk melakukan pembenahan segera. Ia menjanjikan
pembangunan sepuluh unit toilet baru yang terpisah masing-masing lima unit bagi
putra dan putri dalam waktu dekat, serta penyediaan satu ruangan khusus sebagai
perpustakaan sementara.
“Kami juga memimpikan kampus ini memiliki fasilitas yang
mewah dan ‘wow’, namun semua butuh proses. Saya minta mahasiswa juga rajin
kuliah. Mari kita bahu-membahu menjaga fasilitas yang dibangun agar tidak cepat
rusak atau hilang,” tutupnya.
Penulis: Elias
Editor: Jimmy

