SALAM PAPUA (TIMIKA) – Ribuan umat Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua mengikuti perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil Masuk Pedalaman Papua ke-87 yang digelar di Gereja KINGMI Mile 32, Timika, Selasa (13/1/2025).

Ibadah perayaan dipimpin oleh Pdt Marthen Mauri dengan mengusung tema “Roh Tuhan Yesus Telah Mengurapi Aku” yang diambil dari Injil Lukas 4:18–19, serta subtema “Injil Hadir Menyelamatkan Umat-Nya di Tengah Papua dalam Ketidaknyamanan, Allah Tetap Hadir” berdasarkan Roma 1:16–17.

Pdt Marthen Mauri yang juga menjabat sebagai Sekretaris Klasis menyampaikan bahwa perayaan HUT Pekabaran Injil ini menjadi momentum iman dan persaudaraan bagi umat KINGMI, sekaligus menegaskan kembali sejarah masuknya Injil ke pedalaman Papua sejak tahun 1939 dan peran gereja dalam membangun kehidupan sosial masyarakat Mimika.

“Pesan dari Ketua Sinode menegaskan bahwa Gereja KINGMI harus terus membawa pesan Injil. Injil adalah kabar damai, sehingga umat Kristen dipanggil untuk menjadi pembawa pesan perdamaian di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa umat harus memegang teguh inti Injil, yakni Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan pendamai. Firman Tuhan yang disampaikan, Roh Tuhan ada pada-Ku, mengajarkan bahwa Roh Kudus yang dianugerahkan Allah tidak berkompromi dengan kejahatan.

“Hidup hanya satu kali dan akan berlalu. Karena itu, hiduplah sebagai umat yang beriman, sebab apa yang dilakukan untuk Tuhan bersifat kekal dan tidak akan layu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pdt Deteyanus Abugau menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung sehingga ibadah perayaan HUT ke-87 Pekabaran Injil dapat berjalan dengan lancar dan penuh sukacita.

Ia menegaskan bahwa Injil telah diterima oleh para orang tua terdahulu dan menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk terus memberitakan Injil, khususnya di wilayah Papua Tengah.

“Melalui peringatan hari ulang tahun ini, kami kembali diingatkan dan dikuatkan untuk terus memberitakan Injil. Kiranya Tuhan memberi kami semangat yang tidak padam untuk melayani,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Tokoh Masyarakat Lemasa, Pendeta Mesakh Bukaleng, berpesan kepada para pendeta agar senantiasa menjaga sikap dan penampilan sebagai hamba Tuhan, termasuk berpakaian yang pantas sesuai identitas pelayan gereja.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjual tanah adat, karena tanah merupakan sumber kehidupan bagi orang Papua.

“Tanah adalah mama bagi kita. Kita harus menjaga dan memeliharanya agar generasi mendatang masih bisa menikmati dan hidup dari tanah ini,” pungkasnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi