SALAM PAPUA (TIMIKA) – Peristiwa bentrok antar dua
kelompok warga di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten
Mimika, pada 10 Februari 2026, seakan menambah goresan gelap yang tak kunjung selesai
persoalan tapal batas antara Kabupaten Mimika dengan Kabupaten Deiyai di
wilayah tersebut.
Peristiwa ini pun menarik perhatian anggota DPR Kabupaten (DPRK)
Mimika, yang dinilai telah bergeser ke persoalan kemanusiaan.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRK Mimika, Adrian Andhika Thie
meminta masyarakat untuk tetap tenang terkait persoalan tapal batas agar tidak
menambah lagi jumlah korban.
“Sangat disayangkan sekali kalau sampai ada pertumpahan
darah lagi di tanah ini,” ujarnya kepada salampapua.com, Rabu (11/2/2026).
Adrian juga mendesak kepada Kepala Daerah dua kabupaten dimaksud
untuk dapat segera mengambil langkah cepat karena persoalan tapal batas ini
sudah berlarut sangat lama.
“Butuh kepastian untuk persoalan (tapal batas) ini agar
segera menemui titik terang. jangan lagi terjadi korban jiwa karena persolan
yang tidak kunjung menemui titik terang,” tuturnya.
Menurut Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mimika ini bahwa
satu hal yang pasti, persoalan ini sudah menjadi persoalan kemanusiaan. Dimana banyak
masyarakat menderita karena harus mengungsi, anak-anak tidak dapat sekolah
dengan baik, kasus kesehatan juga menjadi persoalan karena masyarakat tidak
kunjung mendapatkan lingkungan huni yang layak.
Dia mengimbau dinas-dinas terkait seperti Dinsos, Dinkes dan
Dinas Pendidikan dapat menjadi motor penggerak untuk persoalan kemanusian di Kapiraya
ini, hingga persoalan tapal batas ini dapat terselesaikan sesuai mekanisme yang
pasti.
Dia juga berharap pihak keamanan bisa segera mengambil
langkah sigap terkait persoalan ini.
“Masalah tapal batas ini sudah diperjuangkan oleh pemerintah
Kabupaten Mimika melalui Kemendagri untuk dapat difasilitasi dan menjelaskan kebenaran
tapal batas pemerintahan antar Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai,”
tutupnya.
Penulis/Editor: Jimmy

