SALAM PAPUA (TIMIKA) – SMP Yayasan Pendidikan Jayawijaya
(YPJ) Kuala Kencana sukses menggelar Lomba Tari Kreasi Papua yang diikuti oleh
sejumlah sekolah di Timika, dengan SMP YPPK Santo Bernardus keluar sebagai
juara pertama.
Kegiatan yang berlangsung di Aula SMP YPJ Kuala Kencana ini
diikuti oleh SMP YPPK Santo Bernardus, SMP Asrama Taruna Papua (SATP), SMP
Negeri 4, dan SMP Negeri 2 Timika.
Melalui proses penjurian yang ketat dan selektif, SMP YPPK
Santo Bernardus berhasil meraih juara I. Sementara itu, juara II diraih oleh
SMP SATP dan juara III oleh SMP Negeri 2 Timika.
Kepala Sekolah YPJ Kuala Kencana, Nursalim, menjelaskan
bahwa lomba tersebut merupakan bagian dari puncak community project bagi siswa
kelas IX.
“YPJ Kuala Kencana melaksanakan kurikulum nasional, namun
khusus untuk kelas IX terdapat ujian tambahan seperti seni, olahraga, dan
kegiatan sosial lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, lomba ini menjadi salah satu bentuk evaluasi
sekaligus wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas, khususnya dalam
seni tari.
“Hari ini ada beberapa sekolah yang diundang untuk
menampilkan tari kreasi Papua dan dinilai langsung oleh dewan juri,” jelasnya.
Menurut Nursalim, kegiatan ini memiliki nilai penting dalam
upaya pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
“Tari kreasi Papua ini menjadi bagian dari penguatan budaya.
Selain itu, juga ada lomba lain seperti paduan suara, melukis, menggambar,
hingga public speaking,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan semacam ini penting karena
generasi muda yang hidup di Papua perlu memiliki kesadaran untuk menjaga dan
melestarikan budaya daerah.
“Kita hidup di Papua, sehingga penting bagi kita untuk
melestarikan karya dan adat Papua,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Ema Mandenas,
menyampaikan bahwa kegiatan lomba telah dipersiapkan sejak tahun 2025.
“Persiapan sudah dilakukan sejak tahun lalu, dan pada 2026
kami mulai melakukan sosialisasi sekaligus mengirim undangan ke
sekolah-sekolah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, awalnya terdapat tujuh sekolah yang
direncanakan ikut, namun dua sekolah akhirnya tidak dapat berpartisipasi.
“Awalnya tujuh sekolah, tetapi dua sekolah menyampaikan
tidak bisa ikut,” ujarnya.
Menurut Ema, lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi,
tetapi juga sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya Papua
di kalangan pelajar.
“Lomba ini bertujuan mengangkat budaya sekaligus menumbuhkan
rasa cinta terhadap seni tari Papua,” katanya.
Selain itu, kegiatan ini juga memberikan nilai tambah bagi
siswa dalam proses penilaian kelulusan di masing-masing sekolah.
Ema berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara
berkelanjutan di masa mendatang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada sekolah-sekolah yang
telah berpartisipasi. Ke depan, YPJ Kuala Kencana akan terus menggelar kegiatan
seperti ini,” tutupnya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

