SALAM PAPUA (TIMIKA) — Kampung Ikipia di Distrik Mimika
Barat Tengah, Kabupaten Mimika, menjadi salah satu wilayah yang menarik
perhatian pengepul emas. Kampung yang berada di tengah hamparan hutan kelapa
ini dihuni oleh 102 kepala keluarga dengan total 375 jiwa.
Di balik suasana kampung yang asri dan tertata rapi,
aktivitas ekonomi masyarakat bertumpu pada pendulangan emas tradisional. Sejak
beberapa tahun terakhir, warga telah memiliki lokasi khusus untuk mendulang,
yang dikelola oleh masyarakat adat pemilik hak ulayat dari suku Kamoro.
“Sudah lama ada lokasi pendulangan. Pengepul hampir setiap
bulan datang. Harga satu gram emas biasanya Rp1,2 juta,” ujar warga Ikipia,
Maria Matipia, Kamis (30/4/2026).
Hal ini dibenarkan Kepala Kampung Ikipia, Austikus Karira,
yang menegaskan bahwa aktivitas pendulangan dilakukan sepenuhnya oleh warga
setempat tanpa keterlibatan pihak luar.
“Lokasi dulang ini milik masyarakat Ikipia, tidak ada warga
dari kampung lain maupun non-Papua,” tegasnya.
Menurutnya, mendulang emas kini menjadi mata pencaharian
utama masyarakat. Sementara itu, aktivitas lain seperti mencari udang dan
kepiting bakau (karaka) dilakukan berdasarkan permintaan pasar.
“Kalau cari karaka dan udang biasanya menunggu pesanan dari
pengepul,” jelas Austikus.
Selain emas, warga juga mengandalkan hasil kelapa sebagai
sumber penghasilan tambahan. Kelapa yang dikumpulkan dijual kepada pengepul
dengan harga sekitar Rp1.500 per buah, kemudian dipasarkan ke wilayah Kota
Timika.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kampung Ikipia
memanfaatkan sumber daya alam secara tradisional untuk menopang ekonomi, di
tengah keterbatasan akses dan pilihan mata pencaharian.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

