SALAM PAPUA (NABIRE) – Ketua Majelis Rakyat Papua Papua
Tengah, Agustinus Anggabaik, membantah pernyataan Gubernur Papua Tengah Meki
Frits Nawipa yang menegur keras MRP karena dinilai tidak menghadiri forum
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Otonomi Khusus dan Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (Musrenbang Otsus dan RKPD) Tahun 2026.
Menurut Anggabaik, pernyataan gubernur tersebut tidak tepat
karena MRP tetap hadir dalam kegiatan tersebut melalui perwakilan pimpinan yang
telah ditugaskan.
“Kami di MRP hadir. Saya sudah bagi tugas. Ada yang
menghadiri Musrenbang, sementara saya turun ke Timika, Distrik Kwamki Narama,
untuk melihat situasi di sana,” ujarnya kepada media, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, sebagai lembaga kultural, MRP juga tengah
menangani berbagai persoalan kemanusiaan di sejumlah daerah yang mengalami
konflik bersenjata. Menurutnya, kondisi keamanan masyarakat harus menjadi
perhatian utama pemerintah sebelum membahas pembangunan.
Ia menyinggung situasi di beberapa wilayah seperti Puncak,
Dogiyai, dan Mimika yang disebut mengalami korban jiwa akibat konflik.
“Kita merencanakan pembangunan sehebat apa pun, tetapi kalau
rakyat hidup menangis, itu tidak sukses,” tegasnya.
Anggabaik juga menyampaikan bahwa pada hari yang sama MRP
turut mengawal aksi mahasiswa dan masyarakat di Nabire agar aspirasi mereka
dapat tersampaikan kepada pemerintah.
Selain itu, ia menyoroti mekanisme undangan dari pemerintah
daerah yang menurutnya sering disampaikan secara mendadak sehingga menyulitkan
penyesuaian agenda kelembagaan.
“Pemerintah harus punya jadwal kerja yang jelas. Jangan
besok kegiatan, hari ini baru undang. Kami di lembaga ini juga punya banyak
tugas,” katanya.
Meski demikian, Anggabaik sepakat bahwa kehadiran MRP dalam
forum Otsus sangat penting. Namun ia menilai seluruh lembaga juga harus
dilibatkan agar pelaksanaan Otonomi Khusus benar-benar dapat dievaluasi
manfaatnya bagi Orang Asli Papua.
Ia menegaskan, pembangunan tidak akan berhasil jika
masyarakat masih hidup dalam rasa takut dan ketidaknyamanan.
“Kalau rakyat belum aman, air mata masih mengalir, lalu
pembangunan untuk siapa?” pungkasnya.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi


