SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kunjungan Menteri Koperasi Republik
Indonesia, Ferry Juliantono, ke Yayasan Somatua di Mimika, Kamis (9/4/2026),
menjadi momentum penting dalam mendorong pengembangan sektor kopi lokal Papua.
Kedatangan Menteri Koperasi tersebut dalam rangka bertemu
Maximus Tipagau sekaligus menandatangani prasasti pencanangan lahan kopi di
Iwaka, Mimika.
Rombongan disambut secara adat melalui prosesi pengalungan
bunga dan pemasangan mahkota khas Papua, mencerminkan penghormatan serta
sambutan hangat dari masyarakat setempat.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di
antaranya Kepala Kampung Iwaka Isak Bukale, Bupati Intan Jaya Aner Maisini,
serta tokoh nasional Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen, dan Putri Jasmine. Hadir
pula sepuluh petani kopi asli Papua yang terlibat langsung dalam pengembangan
lahan kopi.
Penandatanganan prasasti oleh Menteri Koperasi bersama
Maximus Tipagau menjadi simbol dimulainya pengembangan lahan kopi Iwaka yang
diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Maximus Tipagau memaparkan rencana
pengembangan kawasan kopi, mulai dari tahap pembukaan lahan hingga desain
pengelolaan ke depan. Pengembangan ini tidak hanya berfokus pada budidaya kopi,
tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Selain itu, Menteri Koperasi juga meninjau berbagai produk
UMKM lokal, seperti selai buah merah, olahan nanas, dan keripik pisang yang
dikembangkan masyarakat setempat.
Kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama para petani kopi,
yang menyampaikan potensi serta harapan agar kopi Papua dapat berkembang
menjadi komoditas unggulan daerah.
Diskusi antara Menteri Koperasi dan Maximus Tipagau juga
membahas peluang kolaborasi koperasi dalam mendukung pengelolaan kopi secara
berkelanjutan, termasuk pemberdayaan petani lokal agar memperoleh manfaat
ekonomi yang lebih luas.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam
memperkuat sektor koperasi sekaligus mendorong kopi Papua sebagai komoditas
bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing. (Sumber: Yayasan Somatua)
Editor: Sianturi


