SALAM PAPUA (TIMIKA) - PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Universitas Cenderawasih (UNCEN) resmi memulai Program Eksekutif Mengajar untuk memperkuat sinergi antara dunia industri dan akademisi untuk menyiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri global dari Papua.

"Kami sangat mengapresiasi komitmen PTFI yang turun langsung ke kampus. Ini bukan sekadar kuliah tamu, tapi ruang bagi mahasiswa untuk melihat 'dapur' industri pertambangan kelas dunia. Dengan pembelajaran kontekstual ini, mahasiswa siap menghadapi dinamika dunia kerja yang sesungguhnya," kata Rektor Universitas Cenderawasih Oscar Oswald O. Wambrauw dalam pidatonya saat menutup kegiatan Eksekutif Mengajar, di Auditorium Gedung Pusat Sains dan Kemitraan UNCEN-PTFI, Jayapura, Rabu (29/4/2026).

Wambrauw mengatakan, kehadiran praktisi industri memberi perspektif nyata bagi mahasiswa. Program Eksekutif Mengajar membuka wawasan tentang praktik industri pertambangan kelas dunia. Ia juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa sangat aktif baik dalam menyimak dan mengajukan pertanyaan yang relevan.

Pada sesi pertama, Vice President Mining Safety Division PTFI, Eman Widijanto memaparkan tentang tata kelola risiko keselamatan operasional. Ia mengatakan pengelolaan risiko di PTFI berlandaskan nilai perusahaan yaitu Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence (SINCERE), dengan keselamatan sebagai budaya kerja dan standar utama operasional, termasuk dalam pengelolaan kompleksitas tambang bawah tanah.

Sesi kedua, Vice President Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati memaparkan tentang nilai-nilai keberlanjutan dan inklusivitas melalui topik kepemimpinan perempuan di industri pertambangan khususnya peran komunikasi dalam menjaga reputasi dan membangun kepercayaan publik. Ia menekankan komunikasi yang terbuka dan efektif adalah kunci dalam membangun kepercayaan jangka panjang.

“Komunikasi harus dilakukan secara jelas dan transparan, karena pesan yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan yang akhirnya akan membangun kepercayaan.” kata Katri.

Program Eksekutif Mengajar merupakan kelanjutan kemitraan strategis kedua belah pihak, setelah serah terima Gedung Pusat Sains dan Kemitraan pada Desember 2025, serta penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada Maret 2026 lalu. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung empat kali dalam setahun.

Sebanyak 220 mahasiswa antusias mengikuti kuliah. Mereka dari Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Fakultas Kesehatan Masyarakat, hingga Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam. Salah satu peserta menyatakan sesi tersebut membuka wawasan tentang peluang di industri pertambangan, termasuk peran perempuan dalam posisi kepemimpinan.

"Mendengar langsung pengalaman para eksekutif Freeport membuat kami sadar bahwa peluang untuk anak muda Papua di industri ini sangat luas. Materi tentang kepemimpinan perempuan tadi sangat menginspirasi saya bahwa gender bukan batasan untuk bisa memimpin di sektor teknis seperti pertambangan," kata salah satu mahasiswi Fakultas Ekonomi & Bisnis, Merince Kogoya.

Wakil Rektor II UNCEN, Ferdinan Risamasu mengapresiasi materi yang dipaparkan dalam kegiatan ini.

“Materi yang dibagikan sangat berbobot dan disampaikan oleh narasumber yang sangat memahami esensi industri. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat menjembatani kesenjangan kurikulum dengan kebutuhan industri, sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa tentang digitalisasi tambang dan etika profesional,” ujarnya.

Di akhir sesi, para narasumber mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan membangun jejaring.

“Semangat ini kami harap dapat menjadi motor penggerak bagi kalian sebagai generasi muda Papua untuk mengambil peran aktif mengelola sumber daya alam Papua dengan standar global yang berkelanjutan,” kata Vice President Mining Safety Division PTFI, Eman Widijanto.

Editor: Jimmy