SALAM PAPUA (TIMIKA) – Pengurus Koordinator Cabang (PKC)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Papua periode 2026-2028 mendorong
penataan organisasi dan arah gerak rekonsiliasi di era baru, dengan fokus pada
kaderisasi, regenerasi, serta reposisi gerakan agar tetap relevan menghadapi
tantangan sosial-politik di Papua maupun Indonesia.
Langkah tersebut menitikberatkan pada konsolidasi internal,
pembaruan paradigma organisasi, serta keterlibatan aktif dalam berbagai isu
kemasyarakatan.
Ketua Umum PKC PMII Papua terpilih periode 2026-2028,
Abdullah Rahman Bugis mengatakan, di tengah dinamika dan tantangan yang
dihadapi Tanah Papua, PMII sebagai wadah kader pemuda Islam yang berkarakter,
berilmu, dan berjiwa sosial menyadari bahwa persatuan merupakan kekuatan utama
organisasi.
Menurutnya, perselisihan dan perpecahan yang sempat terjadi
di tubuh PKC PMII Papua bukanlah tujuan, melainkan ujian kedewasaan organisasi
sekaligus panggilan untuk kembali merajut persaudaraan.
“Rekonsiliasi ini kami bangun bukan sekadar untuk
menyelesaikan sengketa kepemimpinan atau perbedaan pandangan, melainkan sebagai
langkah strategis memulihkan marwah, kewibawaan, dan fungsi PMII sebagai
kekuatan perubahan di Papua. Kami sepakat bahwa perbedaan pendapat adalah hal
wajar, namun perpecahan yang berlarut-larut hanya akan melemahkan gerakan,
mengurangi dampak kerja nyata, dan mengecewakan harapan masyarakat serta kader
yang menaruh kepercayaan pada organisasi ini,” ujarnya kepada salampapua.com,
Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan, penataan ulang organisasi berpijak pada
empat landasan utama, yakni semangat persaudaraan Islam dan kemanusiaan,
supremasi AD/RT PMII, kebenaran sejarah dan pemulihan, serta kearifan lokal dan
konteks Papua.
“Gerakan PMII Papua tidak lepas dari jiwa, nilai, dan
harapan masyarakat Papua,” katanya.
Setelah rekonsiliasi tercapai, lanjut Abdul, PMII Papua akan
bergerak dengan semangat baru di bawah payung “Gerakan Kolektif Era Baru PMII
Papua”.
“Ini bukan sekadar nama, melainkan arah, semangat, dan cara
kerja kita ke depan,” tegasnya.
Adapun visi PMII Papua saat ini adalah mewujudkan PMII Papua
yang bersatu, kuat, berkarakter, dan berdampak nyata sebagai garda depan
perubahan, kedamaian, dan kemajuan Tanah Papua.
Visi tersebut dijalankan melalui lima arah utama, yakni
penguatan identitas dan nilai dasar, pendidikan dan kaderisasi berkualitas,
advokasi dan perjuangan kontekstual, kolaborasi dan jejaring luas, serta
kontribusi nyata terhadap pembangunan.
“Kami berkomitmen, rekonsiliasi ini adalah bukti kedewasaan
kami. Langkah ini kami pertanggungjawabkan kepada seluruh kader, masyarakat
Papua, dan Pengurus Besar PMII sebagai amanah konstitusional. Bersama, kita
wujudkan PMII Papua yang lebih hebat, lebih bermanfaat, dan menjadi kebanggaan
kita semua,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

