SALAM PAPUA (TIMIKA) - Perjalanan hidup Bernadus Natani
menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Mimika. Penerima Beasiswa Yayasan
Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana
kemitraan PTFI itu berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang
untuk berprestasi.
Mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Sidoarjo
itu sempat tidak serius dalam belajar semasa kecil. Kondisi ekonomi keluarga
membuat Bernadus harus membantu mamanya mencari nafkah setelah sang ayah
meninggal dunia saat dirinya masih duduk di kelas 2 SD.
Bernadus merupakan anak asli Kamoro yang lahir dan besar di
Tapormai, Distrik Mimika Barat Jauh. Ia menempuh pendidikan dasar di YPPK
Tapormai. Di masa kecilnya, ia lebih banyak membantu mama mencari karaka
dibanding fokus belajar.
“Bapakku sudah meninggal saat saya duduk di kelas 2 SD, jadi
saya tidak sekolah dengan baik karena ikut mama cari karaka. Tapi saat masuk
SMP dan SMK saya serius dalam belajar agar dapat mengembangkan diri,” ujarnya
saat zoom meeting bersama media, Senin (25/5/2026).
Kesadaran untuk mengubah masa depan mulai tumbuh ketika
Bernadus duduk di bangku SMP. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Ararau,
Distrik Mimika Barat Jauh, sebelum meneruskan pendidikan di SMK Tunas Bangsa
Pariwisata Timika.
Selama bersekolah di Timika, Bernadus tinggal di Asrama Solus
Populi yang dikelola Keuskupan Timika bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan
Kamoro Bangkit (YPKB) dan didukung oleh YPMAK.
Setelah lulus SMK, Bernadus berhasil mendapatkan Beasiswa
YPMAK dan melanjutkan pendidikan di Politeknik KP Sidoarjo. Di sana, hobinya
dalam dunia pencak silat semakin berkembang.
Ketertarikannya terhadap pencak silat sebenarnya sudah
muncul sejak masih duduk di bangku SMK. Saat kuliah di Politeknik KP Sidoarjo,
ia semakin tekun berlatih hingga akhirnya mengikuti ajang Pencak Silat Bupati
Cup 2025 di Sidoarjo dan berhasil meraih juara dua.
“Dari SMK saya sangat menyukai pencak silat, jadi dari awal
masuk Politeknik saya ambil bidang ini. Tidak menyangka juga bisa juara 2,
karena banyak peserta yang ikut. Puji Tuhan bisa juara dan membanggakan YPMAK
yang telah membiayai kita,” katanya.
Selama satu tahun menempuh pendidikan di Politeknik KP
Sidoarjo, Bernadus mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan pembentukan
karakter, baik dari sisi akademik, olahraga, maupun pendidikan agama. Meski
demikian, ia juga menghadapi tantangan dalam beradaptasi, terutama soal bahasa
dan logat.
“Kalau di Timika kita bicara ko, sa. Di sini bicara gw loe,
jadi kadang kita tidak paham, logatnya juga beda dengan kita. Tapi kami sangat
bersyukur teman-teman dan guru bisa memahami dan memaklumi saya. Apa yang baik
saya dapat di sini saya simpan, dan yang tidak baik saya buang,” ungkapnya.
Bernadus pun menyampaikan rasa terima kasih kepada YPMAK
atas dukungan pendidikan yang diberikan kepada dirinya dan mahasiswa asal
Mimika lainnya.
Menurutnya, kesempatan pendidikan yang diberikan sangat
membantu generasi muda Mimika untuk mengembangkan diri dan kembali membangun
daerah asalnya.
“Semua berkat Tuhan kami ada di sini, tapi hal ini juga
karena adanya dukungan YPMAK. Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan
bantuan yang diberikan. Saya harap anak-anak Mimika lainnya juga mendapatkan
kesempatan ini, kita bisa mendapatkan ilmu dan kembali ke kampung halaman untuk
digunakan agar mengembangkan daerah kita,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

