SALAM PAPUA (TIMIKA) - Ratusan siswa Sekolah Dasar
(SD) Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Tembagapura menampilkan pentas budaya
Indonesia sebagai upaya mencintai kekayaan tradisi dan menumbuhkan rasa bangga
terhadap keberagaman bangsa.
“Pentas budaya kali ini ditampilkan dalam bentuk yang sangat
simbolis, mulai dari pakaian adat, atribut, hingga alunan instrumen musik dan
lirik lagu daerah yang menyatu menyuarakan kecintaan kita terhadap kekayaan
budaya Indonesia,” kata Kepala SD YPJ, Maria Easter Lusiana di Gedung Sport
Hall Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (29/5/2026).
Easter menjelaskan, anak-anak tampil dalam pementasan yang
menggabungkan lagu-lagu daerah dan tarian Nusantara. Perpaduan tarian serta
lantunan lagu dari delapan etnik, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa,
Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua melebur dalam suasana kebinekaan.
Pentas budaya merupakan acara tahunan yang dilakukan untuk
menampilkan seni dan kreativitas sehingga siswa mampu mengekspresikan ide,
mengasah bakat, serta mengembangkan rasa percaya diri mereka melalui seni dan
budaya.
“Pentas budaya ini turut memperkuat delapan dimensi profil
lulusan dalam Kurikulum Merdeka. Aspek kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan
kemandirian berkembang secara alami melalui proses penciptaan dan pementasan
pentas budaya ini. Di sisi lain, penalaran kritis diasah ketika siswa merancang
konsep dan memahami makna budaya yang ditampilkan,” ujarnya.
Sementara itu, Siswa kelas 4 SD YPJ, Zergio (10) meluapkan
kegembiraannya sesaat setelah menampilkan Tari Ksatria yang merupakan tarian
kreasi Swargaloka. Dalam tarian ini terkandung nilai-nilai moral dan luhur yang
sarat dengan semangat hidup dalam berbangsa dan bernegara melalui semangat
juang, menegaskan bahwa kendali hidup kita berada di tangan kita sendiri.
“Selain berlatih menari, saya dan teman-teman juga harus
belajar adat, budaya dan kebiasaan suku Jawa. Saya dan teman-teman di kelas
sudah giat berlatih bersama, jadi saya semangat untuk membawakan penampilan
ini,” ujar Zergio yang juga merupakan penerima beasiswa pendidikan Tomawin dari
PT Freeport Indonesia (PTFI).
Salah satu orang tua siswa, David Bettay yang menyaksikan
pentas ini mengungkapkan kekagumannya terhadap anak-anak yang telah giat
mempelajari seni dan budaya dari suku daerah lain, mengikuti proses latihan,
kerja tim, hingga berani tampil di depan publik.
“Pentas budaya ini mengajarkan anak-anak untuk bertanggung
jawab atas perannya, berani mencoba, dan yang terpenting mereka punya peran
untuk mewariskan ini. Keberagaman seni dan budaya Indonesia harus kita
lestarikan,” kata David.
Editor: Jimmy


