SALAM PAPUA (TIMIKA) – Ramadan secara bahasa berasal dari kata ramidha atau ramadh yang berarti panas terik yang membakar. Makna ini melambangkan bulan suci sebagai momentum untuk membakar dosa-dosa umat Islam melalui ibadah puasa dan amal saleh.

Hal tersebut disampaikan Ustad Ahmad Shali saat membawakan ceramah sebelum memasuki Salat Tarawih hari kedua Ramadan 1447 Hijriah/2026 di hadapan jamaah Masjid Riadius Shalihin, Jalan Nawaripi, Mimika, Papua Tengah, Kamis (19/2/2026).

Ustad Ahmad menegaskan, Ramadan disebut sebagai bulan yang “panas” karena membakar kesalahan sebagaimana panas matahari membakar bumi. Bulan ini menjadi momen penyucian diri dan transformasi spiritual bagi umat Muslim.

“Kita semua berbahagia karena dipertemukan kembali pada bulan Ramadan, bulan agung dan bulan mulia. Apa makna bulan Ramadan? Yakni untuk mencari pahala. Di bulan ini semua amal ibadah akan membakar dosa-dosa kita yang lalu,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh umat Muslim untuk taat dan patuh kepada Allah SWT sebagaimana yang diperintahkan-Nya.

Dalam ceramahnya, Ustad Ahmad juga membacakan Al-Qur'an Surat Ali 'Imran ayat 102: Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn, yang berarti: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

“Dalam surat ini diperintahkan cara menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengingkarinya, serta senantiasa mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya. Teruslah berpegang teguh pada keislaman hingga akhir hayat, agar kita menjumpai Allah dalam keadaan Muslim,” ungkapnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi