SALAM PAPUA (TIMIKA) – Warga Timika mengeluhkan semakin
maraknya aktivitas pendulang emas tradisional yang dinilai masuk ke kawasan
operasional PT Freeport Indonesia, baik di wilayah dataran rendah maupun hingga
ke dataran tinggi Tembagapura.
Tokoh Perempuan, Dince Dimpai, kepada Salampapua.com
menyampaikan bahwa kemunculan pendulang emas liar tersebut sangat
memprihatinkan. Selain membahayakan kesehatan para pendulang, aktivitas itu
juga berpotensi merusak lingkungan.
“Sekarang sudah semakin banyak pendulang mulai dari wilayah
Utikini sampai ke Mile 70. Mereka masuk ke wilayah steril pertambangan dan itu
sangat berbahaya untuk kesehatan, termasuk merusak lingkungan,” ujarnya.
Ia menilai, aktivitas pendulangan di area yang seharusnya
steril dari masyarakat umum tidak hanya berisiko dari sisi keselamatan kerja,
tetapi juga berdampak pada kerusakan alam akibat penggunaan peralatan dan
penggalian yang tidak terkontrol.
Selain persoalan lingkungan, Dince juga menyoroti potensi
konflik sosial yang bisa timbul akibat kecemburuan di tengah masyarakat,
khususnya Orang Asli Papua (OAP). Menurutnya, sebagian pendulang non-OAP
menggunakan mesin bor dan peralatan modern, sementara sebagian lainnya masih
menggunakan cara manual.
“Pemerintah dan aparat harus perhatikan kondisi ini. Jangan
biarkan konflik terjadi,” tegasnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Kapolsek Kuala Kencana, Djemy
Reinhard, menyatakan bahwa penertiban terhadap pendulang emas telah
diagendakan. Namun pelaksanaannya masih menunggu waktu yang tepat karena adanya
sejumlah kendala teknis di lapangan.
“Kami sudah agendakan penertiban seperti biasanya, tapi
untuk tahun ini kami masih menunggu waktu yang pas,” ujarnya.
Diketahui, penertiban terhadap aktivitas pendulang emas
sebelumnya rutin dilaksanakan oleh jajaran Polsek Kuala Kencana guna menjaga
keamanan dan ketertiban di wilayah operasional pertambangan.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

