SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kios UMKM binaan Yayasan Pemberdayaan
Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT
Freeport Indonesia resmi beroperasi di berbagai wilayah Timika sejak Februari
2026. Program ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekonomi masyarakat
Amungme dan Kamoro.
Divisi Program Ekonomi YPMAK sebelumnya telah melakukan
peninjauan terhadap tiga kios, yakni Amungin Mart yang berlokasi di Jalan
Trikora, Kwamki Baru dan dikelola Yufinia Beanal. Dua kios lainnya berada di
Mile 32, yaitu Julia Mart yang dikelola Marike Magai serta Kenemo Mandiri Jaya
Mart yang dikelola Julita Omaleng.
Dalam pendampingan program, YPMAK bekerja sama dengan
Institut Jembatan Bulan dan CV Amungsa Berjaya Gemilang.
Deputi Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Billy
Enerson Korwa, menyampaikan berdasarkan hasil tinjauan, para pengelola kios
mengakui adanya perkembangan usaha dari hari ke hari. Meski pendapatan belum
menentu, aktivitas usaha dinilai mulai menunjukkan hasil positif.
“Dalam dua bulan, kios sudah mulai berfungsi sebagai pusat
ekonomi kecil. Masyarakat belajar mengelola stok, keuangan, dan pelayanan. Kita
lihat sudah mulai berkembang, kita jalankan pelan-pelan supaya bisa dikelola
dengan baik,” ujarnya kepada salampapua.com, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini telah dibangun delapan kios
untuk masyarakat Amungme dan dua kios lainnya masih dalam tahap penyelesaian.
Hal serupa juga dilakukan untuk masyarakat Kamoro. Ditargetkan, paling lambat
awal Maret mendatang sebanyak 20 kios sudah rampung.
Kios binaan YPMAK juga dilengkapi aplikasi modern guna
memudahkan pengelolaan usaha dan pencatatan keuangan secara lebih tertib.
Selain pembangunan 20 kios, YPMAK juga merencanakan
pengembangan usaha lain seperti laundry, rumah sagu, pencucian motor, kedai
kopi, hingga usaha VCO sesuai kebutuhan masyarakat. Program ini dibagi dalam
skema usaha mikro bagi pemula dan usaha makro bagi pelaku usaha yang dinilai
siap berkembang.
Billy berharap melalui kemitraan dengan Institut Jembatan
Bulan, para akademisi dapat menyusun kajian guna meningkatkan kualitas
pelaksanaan program ekonomi ke depan.
“Kadang ada anggapan usaha yang dikelola orang Papua cepat
tutup. Tapi ini proses pembelajaran. Semua ini berkat kerja sama internal dan
eksternal dalam kemitraan,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

