SALAM PAPUA (TIMIKA) – Bupati Mimika, Johannes Rettob,
secara resmi mengumumkan bahwa jalan penghubung Bundaran Petrosea ke Terminal
Baru Bandara Mozes Kilangin Timika diberi nama Jalan Yan Magal (almarhum).
Meski belum ditetapkan melalui Peraturan Bupati (Perbup),
penamaan tersebut disampaikan langsung sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh
masyarakat suku Amungme yang dinilai telah berkontribusi dalam merintis
pembangunan di Kabupaten Mimika.
“Hari ini saya sampaikan bahwa jalan ini saya beri nama
Jalan Yan Magal. Nanti kita akan buatkan Perbup,” ujar Johannes Rettob saat
menghadiri prosesi dan ibadah pembukaan pemalangan jalan yang digelar keluarga
Magal selaku pemilik lahan, Sabtu (14/2/2026).
Keputusan tersebut disambut haru oleh putra sulung almarhum,
Pieter Magal. Ia menilai penamaan jalan dengan nama tokoh lokal merupakan
langkah penting dalam menghargai identitas dan sejarah orang asli Papua,
khususnya suku Amungme dan Kamoro.
“Selama ini nama jalan lebih banyak menggunakan nama
pahlawan nasional. Padahal ini tanah Papua, sehingga sudah seharusnya
menunjukkan jati diri orang Papua. Para pendahulu di tanah ini juga berperan
besar dalam pembangunan melalui keikhlasan menghibahkan tanah,” ujarnya.
Ia juga berharap kebijakan penamaan jalan yang mengangkat
tokoh lokal dapat dibahas lebih lanjut bersama DPRK agar memiliki dasar hukum
yang kuat.
Pieter menjelaskan, almarhum Yan Januar Magal lahir pada
1944 dan merupakan lulusan sekolah pertanian di Merauke. Setelah menyelesaikan
pendidikan, almarhum sempat tinggal di Kokonao sebelum akhirnya kembali ke
Timika untuk mengembangkan pertanian.
“Almarhum membuka lahan dan menanam durian, rambutan,
keladi, petatas dan tanaman pangan lainnya. Beliau pekerja keras, setiap hari
bergelut dengan tanah,” tuturnya.
Selain bertani, almarhum juga aktif dalam bidang pertukangan
dan peternakan. Ia terlibat dalam pembangunan sejumlah gereja di wilayah
Kaimana hingga Asmat, serta turut memasok kayu untuk pembangunan hotel dan
kebutuhan PT Freeport di Tembagapura melalui PT Freeport Indonesia.
Di sektor pertanian dan peternakan, almarhum juga
mengembangkan usaha ternak sapi, babi, dan ayam. Menurut Pieter, ayahnya
dikenal sebagai sosok pekerja keras yang memberi teladan melalui tindakan,
bukan sekadar perkataan.
“Bapak memberi contoh kepada keluarga dengan cara bekerja
tanpa harus memerintah. Mungkin itu yang membuat banyak generasi Amungme
menjadikannya panutan,” katanya.
Hingga menjelang wafat pada 2021, almarhum disebut masih
aktif menghibahkan tanah melalui Lemasa kepada instansi TNI, Polri, maupun
pemerintah daerah.
“Itulah yang membuat almarhum disebut sebagai salah satu
tokoh perintis yang membantu pemerintah dan menjadi contoh bagi masyarakat
Amungme,” pungkasnya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

