SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses
Untung, menyebut pihaknya terus berupaya mencegah kasus stunting di wilayah
pelayanan yang meliputi lima kelurahan dan satu kampung di Distrik Mimika Baru.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/4/2026), dr. Moses
mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui penerapan posyandu integrasi
layanan primer. Pada setiap posyandu dilakukan tahapan skrining serta
pengukuran antropometri guna mengetahui panjang dan berat badan balita.
“Sekarang kami dorong pelaksanaan posyandu integrasi layanan
primer supaya bisa mendeteksi ancaman stunting di lima kelurahan dan satu
kampung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila ditemukan balita dengan kriteria
yang mengarah pada ancaman stunting, maka anak tersebut akan dirujuk ke RSUD
untuk mendapatkan penilaian dari dokter spesialis anak.
“Kami di puskesmas hanya melakukan skrining di setiap
posyandu. Nanti yang menilai apakah seorang balita terancam atau telah masuk
kategori stunting adalah kewenangan dokter spesialis anak,” katanya.
Selain itu, Puskesmas Timika juga terus memperkuat
kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satunya melalui kerja
sama intensif bersama kader kesehatan untuk menjangkau rumah-rumah warga yang
belum terlayani posyandu.
Kolaborasi lainnya dilakukan bersama LSM Wahana Visi
Indonesia (WVI) melalui pendampingan guna meningkatkan kompetensi kader dan
pembina posyandu di setiap kelurahan kategori lokasi khusus (lokus).
Puskesmas Timika juga mendapat dukungan dari Dinas
Peternakan berupa penyaluran telur, bibit ayam, dan benih ikan lele. Bantuan
tersebut diharapkan mendukung pemenuhan gizi keluarga secara berkelanjutan.
“Dari Dinas Peternakan sebelumnya hanya berupa telur, tapi
dilanjutkan dengan pembagian ayam supaya bisa berkelanjutan. Demikian juga
dengan benih ikan lele supaya bisa dibudidayakan, karena ikan lele ini
mengandung protein tinggi,” jelasnya.
Sementara dari Dinas Ketahanan Pangan, dukungan diberikan
melalui penyaluran bibit tanaman yang dapat membantu pemenuhan gizi seimbang
masyarakat.
Di sisi lain, pada setiap kegiatan posyandu juga tetap
disalurkan makanan tambahan berbasis olahan pangan lokal kepada anak-anak.
“Makanan tambahan ini diolah sebagai makanan ringan, tetapi
berbahan pangan lokal. Ini dibagikan ke semua anak,” ujarnya.
Ia menegaskan, berbagai upaya akan terus dilakukan untuk
menekan angka stunting, namun keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan
masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki bayi dan balita.
“Upaya kami tentunya tidak terlepas dari dukungan
masyarakat,” pesannya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

