SALAM PAPUA (TIMIKA) - Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah memastikan sebanyak 668 ekor hewan kurban yang masuk ke Timika menjelang Iduladha 1447 Hijriah/2026 dalam kondisi sehat dan aman untuk disembelih.

Kepastian itu diperoleh setelah petugas karantina melakukan pengawasan terhadap lalu lintas hewan kurban yang masuk ke wilayah Kabupaten Mimika sebagai langkah mencegah penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).

Kepala Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah, Anton Panji Mahendra mengatakan, pengawasan lalu lintas hewan menjadi bagian penting dalam menjamin keamanan hewan kurban yang masuk ke Papua Tengah.

“Peran karantina sangat penting dalam memastikan hewan kurban yang masuk telah memenuhi persyaratan kesehatan dan terbebas dari penyakit berbahaya. Hal ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk melindungi sumber daya hayati hewan sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam menyambut hari raya Iduladha,” ujar Anton dalam rilis yang diterima salampapua.com, Sabtu (23/5/2026).

Pengawasan dilakukan di Pelabuhan Pomako terhadap hewan kurban yang didatangkan dari Maluku Tengah, Tual, dan Kaimana. Dalam pemeriksaan tersebut, petugas melakukan pengecekan dokumen karantina, kondisi fisik hewan, hingga pengawasan kemungkinan adanya penyakit hewan menular.

Berdasarkan data aplikasi Best Trust, jumlah hewan kurban yang masuk ke Timika pada 2026 meningkat sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025 tercatat sebanyak 603 ekor hewan kurban masuk ke Timika, sedangkan tahun ini meningkat menjadi 668 ekor.

Dari total tersebut terdiri atas 387 ekor sapi, 235 ekor kambing, dan 46 ekor domba dengan nilai jual diperkirakan mencapai hampir Rp6 miliar.

Anton juga mengimbau para pelaku usaha dan masyarakat agar mematuhi seluruh ketentuan karantina, termasuk melengkapi dokumen resmi dan melaporkan setiap pemasukan hewan kepada petugas.

“Langkah sederhana ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga kesehatan hewan dan melindungi masyarakat dari risiko penyebaran penyakit,” tutupnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi