SALAM PAPUA (NABIRE) - Solidaritas Rakyat Papua (SRP)
Dogiyai meluncurkan buku berjudul “Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026:
Catatan Kritis Solidaritas Rakyat Papua di Dogiyai” sebagai upaya
mendokumentasikan peristiwa kekerasan yang menewaskan sembilan orang serta
mendorong pengungkapan kasus secara menyeluruh.
Peluncuran buku yang dirangkaikan dengan diskusi publik ini
dijadwalkan berlangsung pada Selasa (5/5/2026) di Aula Gereja Katolik Kristus
Raja, Sriwini, Nabire, Papua Tengah.
Buku tersebut disusun berdasarkan peristiwa kekerasan yang
terjadi pada 31 Maret hingga 2 April 2026 di Moanemani, Kabupaten Dogiyai, yang
menjadi salah satu insiden paling disorot dalam dinamika konflik di wilayah
tersebut.
Dalam peristiwa itu, tercatat sembilan korban jiwa, terdiri
dari satu anggota Polri, Bripda Juventus Edowai, serta delapan warga sipil yang
turut menjadi korban dalam situasi yang hingga kini masih menyisakan berbagai
pertanyaan publik.
Hingga saat ini, kasus penembakan tersebut dinilai belum
sepenuhnya terungkap secara transparan, karena pelaku belum teridentifikasi
secara jelas, meskipun penyelidikan telah dilakukan oleh aparat penegak hukum
dan sejumlah lembaga independen.
Melalui buku ini, SRP Dogiyai berupaya menghadirkan
dokumentasi yang komprehensif, kritis, faktual, sistematis, dan berbasis
kesaksian, sekaligus menjadi bagian dari upaya “melawan lupa” serta mendorong
proses investigasi yang lebih mendalam, objektif, transparan, dan independen.
Koordinator SRP Dogiyai, Benny Goo mengajak seluruh elemen
masyarakat untuk hadir dan terlibat aktif dalam diskusi sebagai ruang bersama
untuk membangun pemahaman dan mencari kejelasan atas peristiwa tersebut.
“Ini adalah undangan terbuka bagi semua pihak untuk datang,
menyaksikan, dan terlibat dalam diskusi demi mencari kejelasan atas peristiwa
yang terjadi,” ujarnya.
Dalam agenda diskusi, panitia menghadirkan delapan
narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Bupati Dogiyai Yudas Tebai, Plt
Kapolres Dogiyai AKBP Dennis A. Putra, anggota DPRD Dogiyai Yohanes Degei,
anggota DPD RI dapil Papua Tengah Eka Kristina Yeimo, Ketua Pokja Adat MRP
Papua Tengah Yulius Wandagau, perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandei,
akademisi Felix Degei, serta aktivis HAM Papua Selpius Bobi.
Diskusi akan dipandu oleh tiga moderator, yaitu Tresia F.
Tekege dari Cenderawasih Pos, Dolince Iyowau (pegiat literasi Dogiyai), serta
Arnol Dou dari Pemuda Katolik Papua Tengah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang dialog terbuka yang
konstruktif, kritis, partisipatif, inklusif, dan berimbang dalam mengungkap
fakta serta memperkuat komitmen bersama terhadap penegakan keadilan,
transparansi, dan penghormatan hak asasi manusia di Papua.
Penulis: Elias
Editor: Jimmy

